Kuliner “Nyasar” Indonesia

Kenapa bika Ambon dari Medan? Kenapa wingko Babat khas Semarang? Kenapa banyak banyak nasi pecel di kereta api di Sumatera Utara? Pertanyaan ini yang kerap muncul ketika mengamati kuliner Nusantara. Tentu saja itu semua ada musababnya.

Namun itu hanya akan menjadi pertanyaan belaka, jika tidak ada iktikad baik untuk menilik lebih jauh penyebaran kuliner di Nusantara.

Saya yakin, semua orang Babat akan geram jika mendengar kuliner khas mereka dikait-kaitkan dengan wilayah lain, apalagi ada embel-embel “khas” di depannya. Semua orang Babat tahu, bahwa wingko Babat adalah asli bikinan daerah mereka; Babat. Sebuah daerah di bantaran kali Bengawan Solo, yang masuk Kabupaten Lamongan ini, secara turun-temurun mewariskan kuliner khasnya ini.

Pun begitu saat pertama kali saya tahu ada “Wingko Babat khas Semarang”. Meski saya bukan orang Babat, saya tahu persis bahwa makanan yang terbuat dari kelapa itu adalah asli Lamongan, dalam hal ini diwakili oleh Babat. Hampir semua rumah di Lamongan bisa membuat wingko. Anda akan menemui makanan lezat ini di setiap hajatan desa, baik itu pernikahan, sunatan, atau bahkan, kematian. Wingko telah menjadi menu wajib, yang setia melengkapi penganan produk hajatan itu.

Sampai tulisan ini dibuat, saya belum mengetahui latar belakang sebenarnya, kenapa wingko Babat harus berlabel khas Semarang. Kemungkinan besar, arus urbanisasi orang-orang Lamongan ke luar Lamongan. Kota-kota besar menjadi rujukan. Surabaya, Jakarta, Jogja, Bandung, dan juga Semarang. Seperti kebanyakan masyarakat urban pada umumnya, mereka mengerahkan segala sesuatu yang mereka bawa dari rumah. Mungkin ini hanya asumsi tanpa dasar, tapi melihat menjamurnya soto Lamongan, pecel lele Lamongan di kota-kota itu, maka kemungkinan besar, wingko Babat juga mengalami hal serupa. Bedanya, wingko yang kemudian “besar” di Semarang ditambahkan kata “khas” di depannya.

Kasus serupa dialami oleh bika Ambon dari Medan. Setelah dicek lebih jauh lagi, ternyata memang tidak ada satupun penjual bika di Ambon, meski demikian, masih ada beberapa rumah yagn menyajikan bika sebagai kudapan. Namun, ada kabar yang mengatakan memang bika Ambon khas Medan, memang benar-benar dari Ambon.

Informasi ikhwal bika, sedikit dikulik dalam buku Bunga Angin Portugis di Nusantara, Jejak-jejak Kebudayaan Portugis di Nusantara tulisan Paramita R. Abdurachman. Paramita menjelaskan bahwa salah satu peninggalan portugis di Maluku, selain musik keroncong, adalah tradisi kulinernya. Di antara beraneka warna kuliner yang ditularkan adalah bika. Tapi uniknya, bika Ambon seakan tidak mendapatkna kamar di rumahnya sendiri, Medan lebih ramah bagi kelangsungan hidup bika.

Namun sayang, alasan kepindahan bika dari Ambon ke Medan tidak banyak diketahui, baik warga Ambon muapun orang Medan sendiri. Bika, dan kuliner nusantara pada umumnya, memilih untuk berjalan sendiri, dan menorehkan nasibnya sendiri.

Satu-satunya yang bisa ditebak dari kepindahan bika ke Medan adalah migrasi besar-besaran orang Ambon ke Medan awal abad ke-20. Penduduk Ambon yang banyak menjadi serdadu KNIL (Koninlijk Nederlands Indisch Leger) memilih untuk menetap di Medan setelah operasi besar-besaran Belanda di Aceh. Meski demikian, masih sulit untuk mengaitkan bika dengan migrasi orang-orang Ambon itu, lantaran tidak ada sumber yang mengatakan bahwa mereka juga menularkan kemampuan meramu mereka di Medan.

Masih dari Medan. Jika kita jalan-jalan di Medan menggunakan kereta api—penulis sendiri belum pernah ke Medan—kita akan mendapatkan suasana Jawa di dalam kereta tersebut. Hal yang paling kentara yang dapat kita temui adalah keberadaan nasi pecel yang dijajakan di dalam kereta tersebut. Meskipun jika ada perbedaan rasa dengan pecel Jawa, tetap saja, pecel adalah makanan yang berhubungan  sangat erat dengan Jawa. Pertanyaannya, kenapa pecel bisa nyasar ke kereta api di Medan?

Cerita berawal dari banyak penduduk keturunan Jawa yang berada di Sumatera Utara, tepatnya sepanjang pantai timur Sumatera.  Tahun 2000, data dari Badan Pusat Statistik Sumatera Utara menunjukkan angka yang fantastis untuk etnis keturunan Jawa. Kebanyakan mereka mendiami pantai timur Sumatera. Total etnis keturunan Jawa di Sumatera Utara mencapai 34 persen.

Gelombang kedatangan etnik Jawa di Sumatera disinyalir bermula sejak pertengahan abad 19, ketika itu seorang Belanda Jacob Neinhuys memperkenalkan tembakau di Deli—waktu itu masuk wilayah Sumatera Timur—sebagai tanaman perkebunan. Data yang dihimpun oleh Bintang Barat yang tertanggal 2 Desember 1890 menjelaskan ada sekitar 40 buruh yang diangkut untuk bekerja sebagai buruh di kebun Neinhuys pada 28 November di tahun yang sama. Ternyata, gelombang kedatangan masyarakat beretnik Jawa tidak sampai di situ saja, tahun-tahun setelahnya, dengan semakin banyaknya kebutuhan akan tenaga perkebunan, maka arus kedatangan etnik Jawa semakin banyak.

Arus itu bahkan terus berlangsung pasca kolonialisme. Kebun-kebun sawit dan karet banyak berkembang pasca proklamasi, tentu saja itu membutuhkan tenaga yang banyak pula, dan lagi-lagi, orang Jawa menjadi tenaga kerja yang cukup mumpuni untuk memenuhi tugas-tugas itu.

Tidak sekadar menjadi buruh kebun, para pendatang dari Jawa itu terus menularkan tradisi kulinernya secara turun-temurun. Aneka warna kuliner yang dibawanya dari Jawa tidak begitu saja ditinggalkan. Tradisi kuliner itu terus terlestarikan bersamaan dengan keberadaan mereka di tengah perkebunan. Pewarisan kuliner itu pula yang  menjadikan suasana di tengah luasnya perkebunan menjadi benar-benar Jawa. Antropolog Ann Laura Stoler menjelaskan dalam bukunya Kapitalisme dan Konfrontasi menerangkan bahwa suasana perkebunan waktu itu laiknya Jawa yang berada di tengah belantara hutan Sumatera. Sangat Jawa.

Fakta itu juga menunjukkan peran besar kuliner Nusantara terhadap heterogenitas etnik di antero Indonesia; bika yang Ambon nampak begitu nyaman di rumah barunya, wingko yang berasal dari bantaran Bengawan Solo numpang tenar di Semarang, dan tidak mau ketinggalan, pecel pun mendapat berkahnya saat nyasar di pesisir timur Sumatera.

Tabik!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s