Suramnya “Nasib” Kuliner Indonesia

Bagi para pecinta kuliner, maka Indonesia tampaknya adalah pilihan yang tepat. Beraneka warna dan ragam makanan dapat ditemukan di antero pelosok negeri yang konon gemah ripah loh jinawe ini.

Dari sekian banyak pulau di Nusantara Indonesia, kesemuanya menyajikan makanan khasnya masing-masing. Pastinya kita akan sulit mengatakan makanan khas Indonesia, karena yang ada adalah makanan khas Sunda, makanan khas Batak, makanan khas Aceh, dan sebagainya, dan sebagainya.
Akhir-akhir ini, kuliner Nusantara menemukan nasib baiknya. Banyak tulisan dan ulasan yang secara detil membahasnya. Baik itu sebagai promo wisata, atau cuma sekadar hobi belaka. Namun di balik itu semua, ada yang perlu disangsikan saat bertanya asal usul kuliner tadi; sejarah awal penyebaran makanan-makanan itu.

Ini yang menjadi persoalan, semisal kenapa bika Ambon khas Medan? Kenapa wingko Babat khas Semarang? Atau kenapa permen dan bukan kembang gula? Dan sebagainya, dan sebagainya? Selain itu, ternyata kuliner secara detil juga menggambarkan silang budaya, khususnya di Jawa. Tampaknya kuliner tengah mengalami kebingungan di rumahnya sendiri, bahkan kerancuan.

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan buku yang ditulis oleh Andreas Maryoto, judulnya Jejak Pangan; Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan. Sekilas buku itu tampak usang, tapi sangat menggugah.

Bersampulkan kertas putih dengan gambar kepulauan Nusantara semakin menarik perhatianku. Setelah mencoba melihat daftar isi—biasanya saya lebih senang membaca sinopsisnya dulu—buku terbitan Kompas itu. Banyak pencerahan ternyata, terutama sejarah panjang persebaran kuliner Nusantara.

***

Dalam buku yang terbeli hanya sepuluh ribu itu, ada beberapa artikel yang tampaknya menarik perhatianku sebagai pembaca awam, terutama di bab 2 Silang Budaya dalam Pangan. Andreas menjelaskan bagaimana kuliner mempunyai peran besar terhadap terjadinya silang budaya di Jawa. Akan saya kutipkan catatan Andreas.

Meja makan di Jawa menjadi saksi persilangan budaya. Makanan yang ada di meja merupakan hasil persilangan budaya yang berlangsung mulus hingga mereka yang berada di samping meja makan akan puas usai mengonsumsi sajian yang tersedia meski mungkin mereka memliki latar belakang berbeda. Kuliner Jawa menyimpan riwayat pelangi budaya dari berbagai peradaban di dunia.

Meja Makan, ternyata tidak hanya sekadar sebagai tempat hidangan disajikan. Namun meja makan lebih dari itu. Konsep Denys Lombard ikhwal silang budaya akan kita temukan dalam aneka warna makanan yang disodorkan oleh meja makan kesukaan kita.

Lebih lanjut, penulis kelahiran Wonosobo ini menjelaskan bahwa konflik budaya yang sekarang ini telah begitu kronis sama sekali tidak terlihat di meja makan, di makanan Jawa. Makanan Jawa tanpa disadari telah menjadi simbol kerukunan yang semestinya dilestarikan.

Jika kita pernah ikut slametan Jawa—mungkin juga tempat-tempat lain, kita akan menemukan banyak makanan di meja saji. Ada capcay, mi, rendang, roti, nasi, jajanan, dan sebagainya. Kesemuanya telah menjadi menu khas Nusantara.

Tapi nanti dulu, setelah ditelusuk lebih dalam, ternyata ada beberapa campuran budaya di dalamnya; sate dan rendang banyak terpengaruh India dan Arab, roti pastinya bawaan orang Eropa, capcay dan mi imporan dari Cina, sedang nasi adalah representasi dari Jawa sendiri. Kesemuanya tertali dalam “hidangan slametan.”

Dalam perayaan pernikahan di Jawa Tengah kina mengenal istilah usdek. Maksudnya unjukan, snack, dahar, es krim, dan kundur. Kata Andreas, urutan-urutan itu, sadar tidak sadar telah mengadopsi apa yang biasa di Eropa, yang dikenal dengan table manner.

Mungkin saatnya, kita menggali nilai-nilai kebangsaan yang—meminjam Ben—masih terbayang, dengan kuliner.

Jikalau sulit untuk merabanya melalui sesuatu hal yang besar, kenapa tidak dari hal yang “kecil” saja. Makanan misalnya.

Tabik!

One comment

  1. adjieirawady · May 30, 2012

    siiiiiiip,……lah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s