Berdendang dengan Kesunyian

Terkadang kesunyian itu adalah pilihan yang begitu menenangkan. Dengan sunyi, seseorang akan merasa bahwa dirinya adalah raja di antara keheningan yang menyelimutinya. Selain itu, berjumbu dengan kesunyian adalah sebuah pemberontakan terhadap pelbagai bentuk keramaian yang terkadang menjadi Tuhan bagi sebagian orang.

Johan Huizingga menyebut dalam bukunya Homo Luden, bahwa manusia adalah makhluk yang suka bersenang-senang, suka bermain, dan untuk mekanisme permainannya itu ia memiliki seperangkat aturan-aturan, kode, atau simbol-simbol yang dipahami dan tentunya menjadi kesepakatan bersama.

Oleh karena itu, sudah menjadi sifat dasar manusia, untuk lebih memilih sebuah keramaian, kehirukan, yang tujuan akhirnya untuk memenuhi hasrat alaminya; yaitu bersenang-senang.

Namun, di antara ribuan juta manusia, pasti kita akan menemukan sebagian mereka yang lebih memilih untuk bergelut dengan kesendirian dan kesunyian mereka sendiri-sendiri. Kesunyia dalam artian yang sebenarnya; jauh dari keramaian, jauh dari pesta, jauh dari segala sesuatu yang memungkinkan dirinya untuk bersentuhak dengan orang lain.

Jean Paul Sarte, seorang filsuf eksistensialis berkebangsaan Prancis, adalah salah satu korban kesunyian. Semenjak kecil, Sartre sudah harus kehilangan ayahnya, sosok yang begitu dekat dengannya. Keadaan ini, menjadikan Sartre sebagai bocah yang begitu dekat dengan ibunya. Dia mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari sang ibu. Tak jarang, ibunya memanggil Sartre kecil dengan “anak emas” atau “anak ajaib”.

Sialnya, Sartre tidak mempunyai perawakan dan wajah yang tampan. Semua itu karena sejak kecil ia menderita penyakit strabismus atau mata juling. Tentu saja, cacat itu menjadikan Sartre kecil menjadi sosok yang minder dan sukar untuk bersosialisasi dengan lingkungan di luar rumahnya.

Akan tetapi, kasih sayang dari ibu dan kakeknya seperti sudah lebih dari cukup bagi Sartre yang urung bergaul dengan kehidupan luar. Karena kedekatannya dengan kakek dan ibunya, menjadikan sosok Sartre sebagai anak yang manja dan haus akan pujian. Pernah suatu ketika, dia memberi uang kepada anak jalanan, agar mendapat perhatian dan sanjungan dari sang kakek.

Umur 12 tahun ibu Sartre memutuskan untuk menikah kembali. Kebahagiaan tentu saja menyergap sang ibu, tapi tidak bagi anaknya. Sartre menganggap bahwa ini adalah bentuk dari kehilangan dan penghiaantan. Kondisi ini pula, yang kemudian mendiktum, bahwa Tuhan tidak ada. Mungkin karena tidak lagi menyertai kebahagiaan Sartre.

Sejak itu, Sartre menjadi orang-orang yang selalu bergelut dengan kesunyiannya. Tapi bukannya tanpa hasil, kesunyiannya inilah yang mengantarkan dirinya sebagai seorang penulis dan filsuf besar, yang karyanya terus dikenang sampai sekarang.

Aku kira, tidak hanya Sartre, kebanyakan para filsuf besar lahir dari rahim kesunyiannya masing-masing, dari bentuk pemberontakannya terhadap kondisi lingkungan yang begitu hiruk dan picik. Dengan kesunyian yang tidak diinginkannya, Pramudya Ananta Toer, menorehkan tinta emas dalam polemik dunia sastra Indonesia.

Kembali lagi, bahwa memilih untuk berada dalam kesunyian adalah sebuah pilihan. Bahkan, ada kalanya, kesunyian itu terasa meyenangkan dan indah.

Kesunyian adalah lagu, yang tak berirama dan tak berlirik. Berdendang dengannya adalah sebuah kenikmatan yang tak terkira.

tabik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s