Bias Pandang Sepatu*

Sepatu, sebenarnya apa fungsimu??

Bagi para penggemar film, pasti pernah melihat Cildren of Heaven, sebuah film yang berlatarkan kehidupan miskin di Teheran, Iran. Dalam film tersebut, Majid Majidi, sang sutradara sekaligus penulis cerita, begitu gamblang mengambarkan detail-detail perkampungan-perkampunga kumuh Teheran. Namun ada satu hal yang membuatku bergidik, dan selalu ingin mrembes mili jika menontonny kembali; cerita sebuah sepatu yang memilukan.

Dalam film yang masuk dalam nominasi Academy Award untuk kategori film berbahasa asing terbaik tahun 1998 itu, Majidi memainkan sebuah perdebatan batin seorang kakak dengan adik perempuannya. Perdebatan itu tak lain dan tak bukan disebabkan oleh hilangnya sebuah sepatu. Sepatu itu adalah adlah milik Zahra—diperankan oleh Baharre Siddiqi.

Ali—diperankan oleh Amir Farrokh Hashemian—yang saban harinya ditugaskan untuk belanja keperluan rumah tangga selama ibunya melahirkan hari itu mendapat tugas tambahan dari ayah untuk mengambil sepatu adiknya, Zahra, di salah satu lapak dekat pasar. Ali segera memenuhi tugas hariannya itu. Setelah mengambil sepatu di tukang sol sepatu, Ali kembali ke kios sayur. Saat sibuk memilih sayur pesanan ibunya, tanpa sengaja seorang pemulung mengambil sebuah plastik hitam yang tentu saja di dalamnya adalah sepatu Zahra. Hilangnya sepatu itu menjadi awal konflik film Iran ini.

***

Saya tidak pernah mempunyai pengalaman yang tidak terlalu menarik dengan sebuah sepatu. Baik itu pengalaman menyenangkan ataupun menjengkelkan. Selama ini, semua baik-baik saja dengan sepatu. Kalau beberapa orang begitu antusias untuk berlomba mengoleksi sepatu terbaik dengan merk paling terkemuka, saya tidak pernah memasukan sepatu dalam daftar belian bulanan saya. Bagi saja, sepatu masih kalah populer dengan kopi dan gula pasir.

Pada masa pergerakan, sepatu selalu diidentikkan dengan kolonialisme. Produk barat. Bersama celana, sepatu adalah dua hal yang dianggap haram, dan tidak bisa dipakai, lantaran itu adalah bikinan Barat, yang “kafir” menurut beberapa ulama ortodok. Mereka lebih memilih untuk memakai gapyak—ada yang bilang bakyak—untuk kesehariannya. Meski pada akhirnya, lambat laun, fenomena ini mulai berkurang dan hilang.

Jika ada yang tidak peduli dengan merk sepatu yang dia beli, mungkin saya adalah salah satunya. Saya tidak pernah ingat sepatu apa saja yang telah saya beli. Bagi saya, yang penting adalah kenyamanan di kaki.teringat guyonannya Cak Nun;

Cak Nun: “Kamu memakai sepatu itu fungsinya apa sih?”

Fulan : “Ya untuk melindungi kaki dari bahaya.”

Cak Nun : “Nah, terus fungsinya kaos kaki apa?

Fulan : “ya melindungi kaki biar tidak lecet kalo pake sepatu.”

Cak Nun : “Na terus sebenarnya sepatu itu melindungi atau menyakiti sih?”

Sepatu adalah hal yang delematis. Bagiku. Dia tidak bisa berdiri sendiri. Dia selalu membutuhkan kaos kaki untuk melengkapi fungsinya. Dan jika dia sendirian, maka dia memungkinkan untuk melukai Empunya. Berarti benar kata Cak Nun, fungsi sepatu masih bias. Mungkin itu juga yang membuatku malas untuk bersepatu. Saat kuliah pun, kegiatan memakai sepatu masih bisa diitung dengan tangn. Selama kurang lebih lima tahun, Swallow dan Melly lebih menarik perhatianku.

Pertanyaan terkhir tentang sepatu, kenapa dia melulu menjadi lambang kesopanan dan kepantasan sebuah instansi pekerjaan dan lembaga pendidikan? Kenapa tidak sandal? Dan kenapa tidak gapyak?

Tabik!

*judul sedikit menyadur “Bias Pandang Parkir”—pinjam judulnya ya Mas Homo dan Mbak Encik–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s