Tak Seramai Jogja

Kiro-kiro, iki stan opo yo..???

Beberapa hari yang lalu, saat ada kesempatan libur dari gawe, saya menyempatkan diri untuk sekadar datang ke Istora Senayan. Kebetulan sedang berlangsung Indonesian’s Book Fair. Bisa saja ini akan menjadi kado akhir tahun yang indah bagi saya, soalnya tidak mungkin berharap lebih kepada Tuan Sinterklas yang gemar kelayapan di seputaran Desember.

Seperti biasa, setiap akan datang ke pameran buku, atau bahkan ke toko buku sekalipun, tidak pernah ada rencana pra-acara, tidak pernah terpikirkan buku apa masuk daftar beli dan daftar buang. Semua serba spontan. Ketika melihat buku yang bagus, selagi masih ada uang, maka buku akan segera terbeli. Pun hal dengan hari itu, tepatnya Rabu kemarin. Sama sekali tidak terpikirkan buku ada dan berapa buku yang akan melengkapi rak sederhana ciptaan saya—lemari diposisikan horisontal supaya bisa menampung buku.

Sekitar pukul sepuluh pagi saya berangkat. Keparat. Busway begitu lama untuk ditunggu. Hampir setengah jam lebih saya karatan di halte Kebun Jeruk, dan parahnya tidak ada sesuatu yang sedap untuk ditelanjangi. Jam sebelah kurang seperempat, bus itu akhirnya datang juga. Dengan riuhan penumpang yang sudah saling berjejal, bergelantung berhimpitan. Dada bertemu dada, pantat bertemu pantat, terkadang bibir bertemu bibir. Jakarta berada di gantungan Busway.

Tak seberapa lama kemudian, bus telah nyampe di halte Harmoni. Masih dengan suasana berdesakan-kurangajar. Tapi untungnya, di sini saya tidak perlu menunggu terlalu lama bus selanjutnya. Perjalanan ke Istora pun segera dilanjutkan.

Seputaran Senayan begitu ramai. Bekas-bekas bener Sea Games November lalu belum sempat dirapikan, berdesak-desakkan dengan spanduk bertuliskan Indonesian’n Book Fair. Pikiran saya tiba-tiba positif. Seramai apa ya pameran buku di Jakarta. Seramai Jogja kah? Atau bahkan lebih meriah dibanding kota Sultan itu? Pikiran-pikiran itu saling berkelindan satu dengan yang lainnya. Saling mencari jawaban yang paling rasional. Namun semuanya kabur.

Jawaban yang kabur itu akhirnya menemukan muaranya. Istora Senayan terlihat lebih lengang. Tidak begitu ramai. Hanya beberapa bocah berseragam putih-abu salin bersliweran ke sana-ke mari. Semakin ke dalam, ada beberapa remaji dan remaji gaya mahasiswa angkatan pertama. Tentunya dengan koloni dan kafilah mereka sendiri-sendiri. Sampai di situ, saja belum menemukan jawaban yang memuaskan. Saya mencoba menelusuri lebih jauh lagi, sembari curi-curi pandang buku yang sedari tadi melambai mau dibeli.

Kios demi kios telah disusuri, lorong demi lorong telah dilewati, namun jawaban keramaian itu masih jauh panggang dari api. Terhitung, setiap kios yang saja hampiri, hanya ada sekitar satu sampai tiga orang saja. Bahkan beberapa kali sama sekali tidak ada yang menjamah. Kosong melompong. Stan yang paling ramai adalah sebuah stan yang begitu familiar di telinga saya, di teling eks mahasiswa Jogja; Stan Yusup Agency. Stan yang selalu meramaikan setiap pameran buku di kota gudeg; Yogyakarta. Dengan rak yang sama, dengan bau buku yang sama, dan tentunya dengan keseronokan yang sama. Paling kiri serba limaribuan, agak ke tengah serba sepuluhribu, geser sedikit ke kanan, ada yang limabelasribuan, dan yang paling kanan dan deret belakang, ya seperti biasa; duapuluhribuan doang!!!

Saya mengabaikan Yusuf Agency dan mencoba mencari yang lain. Saya teruskan penulusuran ke stan Sinar Harapan. Dua buku berhasil diraih. Renville karya Ide Anak Agung Gede Agung, dan Agama dan Budaya Amerika tulisan George M. Marsden, yang masih cukup terjangkau.

Seluruh lorong Istora nampaknya sudah dilalui. Capek tentu. Lobi istora menjadi tujuan selanjutnya. Kaki saya selonjorkan, rokok saya rogoh, tapi tidak ada, soalnya saya bukan perokok. Rogohanku hanya menghasilkan hape butut kesayangan. Nokia seri kesekian.

Dalam selonjoran itu, saya ingat Jogja. Saya ingat setiap pameran buku di Jogja, yang setiap ke sana hanya berakhir dengan erangan getir, karena tidak mampu membelinya, yang harus menunggu sampai bulan depan, atau mungkin juga bulan depannya lagi. Tapi satu hal yang menjadi perhatianku. Pameran buku ini benar-benar tidak ramai, tidak sesak laiknya sesaknya busway yang menghubungkan pojok-pojok Jakarta, tidak antusias, bahkan tidak ada cewek-cewek genit yang sok-sokan mencari buku padahal hanya untuk pamer bulu ketek saja.

Tidak mau terbuai oleh lamunan dalam selonjoran. Takut terjadi sesuatu yang diinginkan. Lorong yang tadi telah dilalui, kembali menjadi tujuan. Ya, siapa tahu ada sisi yang belum terjamah oleh peradaban manusia. Terus berjalan, lamat-lamat saya melihat logo Mizan terpampang di selah-selah pintu masuk lapangan istora. Saya menghampirinya. Keadaan memang jauh lebih ramai, tapi keramaian itu tidak datang dari stan-stan buku. Bocah-bocah berumuran enam sampai sepuluh tahun sedang masyghul dengan dunianya sendiri, asik dengan lomba tari yang diadakan oleh panitia.

Akhirnya, penelusuran saya berakhir dengan sebuah buku yang baru. Cetakan kedua tahun 2011, setelah sebelumnya dicetak tahun 2008. Buku yang laik untuk dijadikan bahan iming-imingan buat teman-teman Jogja buku yang menguak benanghitang sejarah eksotis Banten sebagai bagian dari Nusantara. Banten; Sejarah dan Perkembangan abad X-XVII sedikit mengobati. Untuk sementara.

Tabik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s