Haji Darip; Contoh Unik Pergumulan Kriminalitas dan Patriotisme Masa Revolusi Fisik

Ketika berbicara mengenai kriminalitas, selalu di benak kita akan tergambar sebuah pengertian yang melulu merujuk pada sesuatu yang negatif. Sebenarnya, identifikasi itu tidak sepenuhnya salah, apalagi didukung dengan pemaknaan yang dibuat oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia selama ini. Kamus pegangan resmi bahasa Indonesia itu menuliskan bahwa Kriminalitas bermakna hal-hal yang bersifat kriminal, perbuatan yang melanggar hukum pidana. Atau dalam arti yang luas segala sesuatu yang berhubungan dengan kejahatan. Tentu hal ini berbanding terbalik dengan sifat patriotisme yang selama ini kita ketahui.

Haji Darip

Patriotisme menurut KBBI adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya atau dalam kata lain semangat cinta tanah air.

Namun demikian, perlu diketahui ternyata kemerdekaan yang diperoleh Indonesia pada paruh pertama abad ke-20 tidak lepas dari campur tangan kriminalitas yang marak di antero nusantara, terkhusus Jawa. Jika kita dengan jeli mengamati dan membaca apa yang ditawarkan oleh Anton Lucas dan Suhartono dalam tulisan-tulisan mereka, maka kita akan menemui dunia perbanditan yang mendadak mempunyai rasa patriotisme membumbung. Mas Cilik, lakon yang diangkat Anton Lucas dalam Peristiwa Tiga Daerah menjadi tokoh penting dalam penggalangan masa dalam pembersihan para Pangreh Praja warisan pemerintah militer Jepang. Selain itu, para bandit desa yang digambarkan Suhartono dalam Bandit-Bandit Pedesaan tidak bisa begitu saja kita enyahkan dari ingatan kolektif kita bagaiman mereka berperan dalam perlawanan-perlawanan terhadap tuan-tuan tanah di perkebunan Belanda.

Sebenarnya tidak hanya itu, masih banyak lagi kisah perbanditan yang diidentikkan dengan jiwa “nasionalisme” dalam upaya memperoleh kemerdekaan yang—meminjam istilah Tan Malaka—seratus persen. Bung Tomo misalnya. Dalam kerusuhan Surabaya pertengahan November 45—sebuat saja peristiwa 10 November—Bung Tomo mengkoorganisir barisan sipil yang tersebar di antero Surabaya dan sekitanya, tak terkecuali para bandit-banditnya. Tidak hanya itu, sosok macam Sukarni, Khairul Saleh, dan Wikana—yang punya andil besar dalam penculikan Soekarno-Hatta sesaat menjelang proklamasi—juga tidak bisa begitu saja dijauhkan dari dunia hitam perbanditan, dan yang paling mencengangkan adalah M. Yamin. Beberapa sumber menjelaskan bahwa hampir sebagian gerakan bawah tanah yang ada di Jakarta saat itu bermuara di tokoh pencetus pancasila itu.

Nama-nama seperti Wikana, Khairul Saleh, Sukarni, M. Yamin, dan Tan Malaka bukan nama yang asing bagi kita. Mereka sering sekali menghiasi layar buku-buku yang kita tenteng dan baca saban harinya. Sebenarnya, masih banyak nama-nama lain yang tidak pernah dan atau jarang diekspos dalam belantika sejarah Indonesia. Sebut saja Mas Cilik dalam Peristiwa Tiga Daerah, , Kyai Wasid dan Jaro Kajuruan dalam Pemberontakan Petani di Banten, Haji Darip dan Macan dalam Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta serta tokoh-tokoh lainnya jarang sekali hinggap di telinga. Dua nama terakhir nampaknya begitu spesial bagi penulis sejarah Indonesia; Robert Cribb. Indolog asal Australia itu menghadirkan sosok haji dan segala bentuk dunia hitam yang menghampiri jakarta pasca proklamasi.

Haji Darip adalah sosok yang unik sekaligus misterius. Perannya bagi perebutan kota Jakarta dari Belanda dan Jepang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bersama gerombolan bawah tanah yang dia pimpin, sosok Haji Darip menjadi kekuatan yang menakutkan bagi tentara kolonial; baik itu Belanda dan atau Jepang. Meskipun cuma sekilas saja Cribb memunculkan sosok karismatik asal Klender ini, tetap tidak menghilangkan peran besar sang haji di antara nama-nama beken kaum revolusioner lainnya.

Haji darip terlahir dengan nama Muhammad Arif. Haji Darip berasal dari keluarga ulama tradisional Betawi, tepatnya Klender. Lahir dari pasangan Haji Kurdin dan Hj. Nyai, Darip merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Sebagai anggota dari keluarga ulama tradisional, Haji Darip tidak mengenal pendidikan formal membaca dan menulis. Kemampuan membaca dan menulis justru dia dapatkan saat berada di penjara, dan sebagian lainnya belajar dari teman-temannya. Sebagai keluarga ulama, Darip kecil tentu tidak lepas dari pelajaran-pelajaran agama. Meskipun demikian, tidak ada sumber yang jelas mengenai riwayat pendidikan dan kepada siapa dia berguru agama.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Haji Darip pernah menimba ilmu di Mekah. Seperti kebanyakan orang Indonesia yang memilih belajar di Mekah, Haji Darip selama kurang lebih dua tahun menetap di Mekah. Sepulang dari Mekah, Darip memulai aktifitas berdakwahnya. Tidak berlebihan jika Ahmad Fadli memasukkan nama Haji Darip dalam daftar Jaringan Ulama Betawi yang berkontribusi terhadap penyebaran Islam abad 19-20. Selain berdakwah, Darip juga terlihat mulai getol dalam perjuangan melawan pemerintah Kolonial Belanda.

Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1959 menyebut Darip sebagai berikut; Darip adalah putra pemimpin “gerombolan” setempat yang sangat terkenal . mengamini apa yang dikatan oleh Akhmad Fadli, Cribb memperjelas status Darip sebagai seorang ulama lokal. Soal berapa lama Darip berada di Mekah, Cribb mempunyai fersi yang berbeda dengan Fadli. Dia menyebut Darip berada di Mekah selama tiga tahun sebelum akhirnya kembaki ke Klender.

Sembari berdakwah, Haji Darip bekerja sebagai pegawai perusahaan kereta api pemerintah. Selain itu, Darip juga aktif dalam perdagangan di tingkat lokal. Masyarakat sekitar mengenal Haji Darip sebagai sosok pemuka agama yang mempunyai kekuatan memberikan jimat dan kekebalan kepada para pengikutnya. Pada 1923 dia memimpin sebuat pemogokan buruh kereta api di Jakarta, akan tetapi, karena sedikitnya massa dan kurangnya dukungan dari kaum nasionalis, gerakan ini mampu segera dipadamkan, dan Jakarta kembali aman. Meskipun demikian, Haji Darip tidak lantas terbuang dari Jakarta dan komunitasnya. Sepertinya, kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bagi pergerakan bawah tanah yang banyak berafiliasi dengan tokoh nasionalis garis keras.

Untuk memperkuat jaringannya, Haji Darip membentuk Barisan Rakyat Indonesia, yang lebih sering disingkat dengan BARA. Dengan organisasi ini, Darip melakukan pengawasan ketat di wilayah jalanan Jakarta bagian barat. Sekali lagi, dia berhasil memadukan kriminalitas dan patriotisme hanya dengan melakukan penjarahan terhadap pada pedagan dari Cina, Eurasia, dan tentunya Eropa. Bagi Darip dan komplotannya, barang siapa yang berkulit agak terang dari kulit kebanyakan maka “halal” baginya untuk dirampok dan dijarah habis-habisan. Selain itu, orang-orang Indonesia Timur macam Ambon dan Maluku juga boleh dirampok. Alasannya cukup klise, karena kebanyakan dari mereka menjadi antek (baca Marsose) bikinan pemerintah Kolonial Belanda.

Namun, nasib Darip dan orang-orang sekitarnya berakhir dengan sangat ironis. Dunia perbanditan yang “patriotik” tidak tidak meski berumur panjang. Nampaknya, konotasi jelek kadung melekat erat di tiap-tiap sendi kehidupannya. Pergantian pemerintahan kepada republik justru tidak mendatangkan kebahagiaan bagi mereka. Mereka disingkirkan dan perlahan dienyahkan. Parahnya lagi, jasa-jasa mereka yang sebenarnya tidak sedikit coba dikaburkan.

Meski demikian, sejarah Indonesia jelas tidak bisa begitu saja lari dari dunia perbanditan. Mau tidak mau, dunia bandit telah menjadi aktor utama segala bentuk perlawanan masyarakat pribumi kepada pemerintah Hindia-Belanda. Bisa jada, gerakan Diponegoro, gerilnya Soedirman, dan heroisme Soetomo dan Arek-arek Suroboyo adalah bentuk lain dari eufimisme perbanditan era kolonial.

Tabik!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s