TOL

Tol.......lollll

Akhir-akhir ini, ketika kita membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tol, yang kita dapat bahas hanya sebatas isu kenaikan dan pelayanannya yang alakadarnya.

Tol tak ubahnya jalan-jalan lain di Indonesia yang saban harinya penuh sesak dengan pelbagai kendaraan bermotor, terutama yang beroda lebih dari empat. Kok bisa? Karena yang beroda kurang dari empat di larang masuk tol. Tidak jelas, peraturan dari mana dan kenapa kendaraan beroda kurang dari empat tidak diperkenanan merasakan halusnya aspal tol.

Buatku, tol mempunyai keistimewaan tersendiri. Dulu, waktu dunia masih terasa begitu indah, dunia masih terasa begitu khusuk dengan permasalahan yang sederhana, dan dulu ketika dunia masih begitu bersahabat dengan kami, anak-anak belia yang berumur kurang dari sepuluh tahun. Setiap bepergian ke Surabaya—kota yang relatif dekat dengan gubuk kelahiranku—ibuku selalu kusuruh untuk membangunkanku saat mobil yang kami naiki lewat di tol. Maka, setiap sudut tol pun tidak akan pernah luput dari bidikan mata.

Menurut KBBI tol berarti jalan yang mengenakan bea buat pemakainya. Dalam artian, siapa pun yang melewati jalan bebas hambatan ini harus dikenakan biaya. Namun demikian, ada semacam eksklusifitas yang sangat mencolok ketika berada di jalan tol. Apakah gerangan? Eksklusifitas itu muncul ketika hanya kendaraan-kendaraan tertentu saja yang diperbolehkan melewati jalan itu (seperti yang disinggung di paragraf sebelumnya). Hal ini bagi sebagian kalangan akan menimbulkan tanya yang tak jelas jawabnya. Ibarat sekolah, jalan tol adalah sekolah mahal yang dikhususkan bagi mereka yang berkantong tebal saja.

Akan tetapi, yang menjadi pokok perbedaan disini adalah permasalahan jenis kendaraan. Kendaraan kecil yang meliputi sepeda motor yang selalu disibukkan dengan beceknya lajur jalan dan selalu dipusingkan dengan pasar yang tiba-tiba muncul laiknya jamur di musim penghujan. Parahnya, setiap ada kendaraan yang beroda kurang dari empat, sekonyong-konyong kendaraan itu akan dikenakan tilang. Terkadang tilang yang dijatuhkan jauh melebihi tarif tol yang biasa dibebankan pada pengguna tol. Delematis.

Beberapa hari yang lalu, saya mempunyai pengalaman yang cukup menarik dengan jalan tol. Tepatnya di daerah Taman Anggrek, sebuah kawasan elit di Jakarta Barat. Beberapa saat setelah ngopi di seputaran Halim Perdanakusumah, saya dan seorang kawan memutuskan untuk balik ke daerah Kemanggisan, Palmerah, juga di Jakarta Barat. Sesampainya di Slipi, kami memutuskan untuk mengambil jalur cepat, tentunya melewati jalur-jalur tikus yang tersebar di antero Jakarta. Sungguh tak disangka, ternyata jalur yang kami lalui benar-benar jalur yang salah, lantaran itu mengantarkan kita masuk langsung ke Tol Taman Anggrek.

Sekilas, kami tidak sadar bahwa motor yang kami naiki telah memasuki jalur khusus. Kesadaran kami buyar ketika sebuah teriakan menghampiri kami. Teriakan itu datang dari seorang necis berseragam coklat dan bersenjata peluit. Ya, dia adalah polisi yang kala itu tugas di seputaran Tol Taman Anggrek. Jelas, ini adalah sebuah pelanggaran. Karena jalur ini tidak diperkhususkan buat kendaraan roda dua. Terpaksa tigapuluh ribu raib dimakan sang polisi. Terbesit sebuah harapan agar duit yang tidak seberapa itu kelak bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Sungguh, malam itu menjadi malam yang begitu istimewa bagi Supra yang kami naiki dan. Soalnya, malam itu adalah malam di mana si Supra menjadi satu-satunya kendaraan yang beroda kurang dari empat yang bisa menikmati mulusnya aspal tol. Semoga, besok tidak hanya supra berparas hitam itu saja yang bisa melenggang (meski tidak bebas) di jalur tol, melainkan Supra-supra, Revo-revo, Vega-vega, Jupiter-jupiter dan lain sebagainya.

Tabik!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s