Tidak Hanya Melihat, Kami Juga Menghafal dan Mengamalkan

Mimpi mereka laik dihormati.

Seperti subuh-subuh biasanya, Mak membangunkanku untuk ngaji subuh. Dingin memang, tapi mau bagaimana lagi. Karena ini memang sudah menjadi peraturan bagi kami, siswa kelas 3 sampai 6 Madrasah Ibtidaiyah, harus mengikuti ngaji tambahan setiap selesai salat subuh. Pagi itu adalah subuh di hari Rabu. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan subuh di hari Rabu. Sama seperti dengan subuh-subuh hari lainnya, dingin dan menggigil.

Satu hal yang membedakan subuh di hari Rabu ini dengan subuh-subuh lainnya adalah Siaran Langsung Liga Champions. Iya, benar sekali. Setiap tahunnya, selama bulan September sampai akhir Mei adalah masa di mana ramai-ramainya perhelatan liga paling top antar klub-klub di antero Eropa. Bagi para penggila bola, bulan-bulan ini adalah bulan anugrah, bulan yang penuh berkah, dan tentunya bulan penuh pertaruhan.

Pun demikian juga dengan kami, bocah-bocah desa kecil nan ingusan yang menggilai bola lebih besar dari pada orang-orang dewasa yang mencintai kambing dan sapi-sapinya. Setiap ada pertandingan, kami akan membuat janji “di mana malam ini kita akan menonton?” Maklum saja, TV di desa kami masih mudah untuk dihitung dengan jari-jari kecil kami, ya kalau nggak  di rumahnya Mujib, Aziz, Ndombos, ya tempatnya Pak Eko. Nama-nama itu pun merupakan bocah-bocah penggila bola di desa kami.

Kesukaan kami terhadap bola berbeda dengan mayoritas warga di desa kami. Bagi sebagian besar warga di desa kami, mereka yang dianggap penggila bola adalah yang pintar main bola. Tetapi kami lebih dari itu, selain setiap sore kami begitu akrab dengan bola plastik kami, kami juga ingin seperti orang-orang dewasa di desa kami; “menonton dan berbicara tentang sepak bola”.

Tak pelak ini menjadi fenomena dan kebanggaan tersendiri bagi bagi. Ketika sebagian kami dengan khusuk membicarakan kemenangan Baja Hitam atas lawan-lawannya, saya dan beberapa teman asik berdebat, menggunting dan membolak-balik koran Olahraga hasil colongan kami.

****

Saya dididik di tengah-tengah tradisi Gila Bola, meskipun keluarga kami bukanlah pemain bola yang baik dan benar. Siapa yang tidak bapakku. Dia adalah salah satu orang yang begitu fasih membicarakan Tim Indonesia era Ronny Pati dan Ricky Yakobi. Dengan radio mungilnya dia akan terus memantau perjalanan Tim Indonesia di sela-sela kegiatannnya membakar gamping.

Setali tiga uang, kakakku juga demikian. Awal tahun 1990-an dia sudah begitu akrab dengan ANTV—yang menayangkan Liga Indonesia—sebelum masyarakat Indonesia begitu bangga dengan klub-klub lokal mereka.

Awal keakraban saya dengan Sepak bola adalah ketika saya beberapa saat setelah lulus dari Taman Kana-kanak. Waktu itu pertengahan tahun 1994. salah seorang kawan saya yang mempunyai TV kerap menjadi rujukan untuk nonton bareng. Waktu itu lagi ramai-ramainya perhelatan Piala Dunia 1994 di AS. Tanpa sengaja, saya yang pasti bangun pagi—karena ibu saya paling benci melihat orang yang tidur setelah subuh—saya main ke rumah teman saya tadi. Dari luar saya melihat ruang tamu yang begitu ramai oleh hiruk beberapa pemuda. Setelah saya masuk, ternyata mereka sedang menyaksikan Final Piala Dunia 1994 antara Italia melawan Brazil. Pertandingan tersebut dihelat di stadion “Mangkuk Mawa” kebanggaan warga AS.

Tak  kusangka, kawanku tadi juga ikut melihat pertandingan itu. Temanku itu kira-kira 3 tahun lebih tua dari saya. Kebiasaan saya ketika melihat TV adalah mengambil posisi paling depan di antara kerumunan. Begitu juga dengan pagi itu. Saya langsung mengambil posisi paling depan. Persis berhadapan dengan TV. Dan saya sampai sekarang yakin, bahwa di antara mereka yang berada di ruang tamu kawanku itu, yang sedang masghul dengan final Piala Dunia, saya adalah penonton paling kecil sekaligus paling muda. Waktu itu saya berumur 7 tahun lebih satu bulan.

Berawal dari itulah, kegilaanku pada olahraga menggiring bola ini semakin menjadi-jadi. Perkenalanku itu juga didukung oleh beberapa koleksi tabloid sepakbola yang kerap dibeli kakakku di pasar kecamatan. Saya membaca, menggunting, menghafal, dan terus bergerilya mencari televisi siapa gerangan yang nanti malam diputar buat menayangkan siaran langsung sepakbola.

Tahun 1997, benar-benar menjadi tahun yang sangat istimewa bagiku. Bersama dengan beberapa kawan, kami memulai untuk menyukai sebuah klub favorit. Di ruang tamu rumah sederhana saya terpampang gambar-gambar pemain bola hasil kreasi kakakku. Del Piero dengan Jeventusnya, Batistuta dengan Fiorentinanya. Tidak lupa pula Roger Milla yang sedang tersenyum manja.

Gambar-gambar itu ternyata cukup manjur mendorong saya untuk memilih klub favorit. Saya memilih gambar pemain berambut ikal dengan kostum putih strip hitam dengan tulisan “Danone” di bagian dadanya. Tidak kusangka ternyata pemain itu kelak akan menjadi seorang legenda hidup. Hebatnya, klub yang dia bela, pada akhir musim itu secara resmi menasbiskan dirinya untuk merengkus scudetti yan ke-25 di antero Italia. Namun kali ini, bukan lagi “Danone” yang tertulis dada kaos itu, melainkan “Sony” yang tepat berada di bawah logo kuda zebra berhias dua bintang. Aha, ini pilihan saya.

****

Kegilaan kami ikhwal kulit bundar tidak hanya sebatas itu saja. Kami akan melakukan pelbagai cara untuk dapat meniru, mencontoh dan membanggakan diri dengan hobi baru kami.

Bagi kami, mendengar acara Gelegar Sepakbola Dunia setiap pagi di salah satu radio swasta di Surabaya adalah kewajiban kami. Yang tidak menyimak berarti dia akan ketinggalan info. Suara serak Kaisar Victoria dan Bung Mario rasanya begitu akrab dengan telinga kami.

Diantara kami, barang siapa yang bisa membeli dan menghadirkan sebuah tabloid atau majalan sepakbola, maka dia akan menjadi raja sementara. Bisa sehari, bisa seminggu, dan bahkan sebulan.

Setiap sore, tempat yang paling sering kami tuju adalah lapangan sepak bola yang tepat berada di ujung desa. Bagi mereka yang gila bola macam saya, maka dia akan memamerkan apa-apa yang dia lihat dari pemain bola idolanya.

“Begini lho caranya Batistuta berlari. Tangan agak dikepalkan sejajar dada. Terus diayunkan ke depan dan belangan dengan siku sebagai tumpuannya”, ujar seorang kawan memarken gaya legenda Argentina itu. “Selain sebagai penyeimbang ketika lari, gaya itu cukup efektif untuk melindungi dari kawalan pemain lawan,” tambahnya.

“Lihat saja, nanti saya akan mencetak gol ala Bierhof ke gawang Ceko”, balas yang lain.

“Alah, kamu itu cocoknya kayak Angelo Di Livio. Saolnya larimu cepat,” sergah yang lain.

“Ketimbang kamu, jadi kiper kok bawaannya nggaya aja. Kayak Pagliuca”, timpal yang lain.

Selain memamerkan keahlian hasil contekannya, beberapa kawan juga akan menuliskan nama pemain favoritnya di bagina punggung kaos mereka. Tidak lupa juga nomor punggungnya. “Karena nama saya Usman, maka kaosku tak kasih nama Osmanosky,” Usman memamerkan nomor 9 andalan bintang A.C. Bari itu. “Saya nomor 10 dong, soalnya saya kan penyerang kayak Alex Del Piero” balas yang lain.

Sekilas, obrolan-obrolan seperti itu terdengar sangat biasa. Namun, ini akaa menjadi sesuatu yang sangat luar biasa jika itu terlontar dari mulut bocah-bocah yang belum genap berusia 12 tahun, yang di rumahnya belum pada punya televisi. Sering juga, kita mengendap-ngendap mencuri Tabloid sepak bola bekas yang akan dijadikan bungkus jualannya ibu salah satu kawan. Selain berkesempatan untuk membacanya, kami juga bisa memanfaatkan gambar-gambarnya untuk sampul buku-buku tulis kami.

Tidak hanya sampai di situ, kenakalan kami dan keingintahuan kami ikhwal olahraga yang berasal dari negeri Ratu Elizabeth ini begitu besar. Ini terbukti dengan tidak pernah habisnya kami membicarakan sepakbola di manapun tempatnya; di masjid, sekolahan, bahkan di kuburan. Syahdan, ini bukanlah sebuah fenomena yang istimewa, akan tetapi akan begitu berkesan ketika itu terjadi di sebuah tempat yang baru dialiri listrik pada tahun 1996.

Tabik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s