Yo ngene iki mas rasane parkir!

Siapa bilang menjadi tukang parkir bukan pekerjaan yang penuh dengan resiko? Selain harus berhadapan dengan pelbagai kendaraan bermotor yang bisa menyebabkan bisa ditabrak, menjadi tukang parkir juga harus siap berhadapan dengan beranekara ragam karakter pengguna jasa parkir.

 

Motor Besar di atas Dua Ribu

Sekitar pukul satu siang, tiga hari menjelang bulan puasa, suasana jalan C. Simanjuntak, Yogyakarta begitu hiruk dengan pelbagai kendaraan bermotor. Satu ruas jalan yang dibagi menjadi dua arah itu seakan tidak mampu lagi untuk memuat volume kendaraan Yogyakarta yang semakin hari semakin bertambah. Apalagi ditambah dengan banyaknya kendaraan—baik itu yang kendaraan beroda empat atau roda dua—yang parkir di badan jalan, sehingga menambah kesan bahwa jalan semakin sempit.

Ditengah bisingnya kendaraan itu nampak dari jauh sosok tua bertopi biru yang dipadu dengan kaca mata hitam necis dengan kualitas ala kadarnya. Meski sudah cukup tua, namun si topi biru itu masih cukup energik. Lari kesana-kemari, dari mobil satu ke mobil yang lain, dari motor satu ke motor yang lain.

Sebenarnya dalam satu ruas jalan itu tidak hanya Si uzur bertopi biru itu saja yang terlihat sibuk mengatur jalannya parkir di jalan itu. Ada sekitar empat sampai enam tukang parkir yang saya temui, namun mata saya hanya saya tujukan kepada satu tujuan: Si Topi Biru. Konon dia adalah satu diantara empat orang yang memegang perparkiran di Kawasan Terban ini. Belakangan saya tahu bahwa dari empat pemegang otoritas itu hanya dia yang benar-benar memegang ijin parkir dari Dinas Perhubungan.

yang lain secara resmi tidak ada ijin khusus, semuanya masih menggunakan nama saya mas. Karena kebetulan masih saudara semua”, ujarnya waktu itu.

Setelah mengorek-ngorek informasi saya tahu dia bernama Amin Subagyo. Saya lebih senang memanggil dia Pak Bagyo, terlihat lebih akrab.

***

Pagi harinya saya mendapat kabar bahwa Pak Bagyo mendapat jatah shift siang hari, sekitar jam satu. Nah, siangnya setelah selesai menunaikan salat duhur saya langsung bergegas ke jalan C. Simanjutak. Beruntung sekali, saya mendapatkan dia baru saja berkemas untuk segera menunaikan kegiatan kesehariannya ini. Nampak sudah disiapkan segelas teh panas sebagai penghilang dahaganya tatkala parkir, dan nampak juga satu kursi kecil sebagai tempatnya sejenak menghilangkan penat. Tentunya dengan sebendel karcis buat penanda parkir.

Pak Bagyo mulai terlihat sangat sibuk menata kendaraan yang hendak parkir. Peluh mulai berkucuran, dan terik matahari semakin menusuk kulit. Tetapi nampaknya itu tidak berpengaruh terhadap semangat Pak Bagyo untuk terus menata dan merapikan kendaraan-kendaraan itu. Sesekali dia menegur orang-orang di sekitar dia bekerja, seperti penjaga toko, pengguna jalan dan lain-lain.

Tidak berselang beberapa lama, dia mendapati seorang pengguna jalan yang terlihat mau mencuri kesempatan untuk tidak membayar parkir. Ia menangkap gelagat itu. Pak Bagyo segera menghampiri orang itu dan kemudian terdengar obrolan antara mereka.

Maaf pak saya tidak jadi membeli barang di toko tadi, jadi saya tidak harus membayar parkir kendaraan saya ini”, Pak Bagyo terlihat hanya memasang muka pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika mendengar pernyataan tiu

Ya seperti ini mas, banyak alasannya. Padahal kalau di Mirota kalau sudah masuk kan harus bayar parkir, meskipun di dalam tidak membeli apa-apa”, keluhnya dengan merujuk salah satu Super market yang berada tidak jauh dari tempat dia bekerja.

Kejadian tadi tidak serta membuat pak Bagyo putus asa, dia langsung kembali tancap gas untuk segera meneruskan kegiatannya. “kejadian semacam itu sering mas, tidak sekali dua kali saja. Hampir tiap hari ada kejadian semacam itu”, ujarnya seraya menghampiri sebuah mobil yang telah menggunakan jasa parkir.

Keluarga Juru Parkir

Pak Bagyo sudah dua puluh tiga tahun bergelut di bidang parkir-memarkir, jauh sebelum regulasi parkir diterapkan dengan ketat seperti ini. “Waktu itu sistem parkir masih borongan, jadi satu orang memegang satu blog tersendiri. Tetapi sekitar tahun 1986-1987 regulasi parkir diubah. Semua perijinan parkir langsung dipegang oleh pemerintah, tepatnya waktu itu adalah Pemerintah Daerah Yogyakarta”.

Ketika regulasi parkir masih menggunakan sistem borongan, hampir semua kebijakan parkir dipegang sepenuhnya oleh yang memegang borongan itu, mulai tarif dan aturan-aturan yang terkait dengan parkir. “jadi sistemnya seperti tender-tender kecil begitu mas”, akunya waktu itu.

Karena itu lah dia memudahkan keluarganya yang lain bergelut dalam bidang yang sama; Parkir. Dari enam bersaudara empat diantaranya adalah tukang parkir. “kebanyakan adalah tukang parkir, saya anak ke tiga. Sisanya ada menjadi Pegawai Negeri”. Cerita Pak Bagyo juga diperkuat oleh Pak Budi, salah satu adik Pak Bagyo yang juga juru parkir, “ada saudara saya yang masuk angkatan juga”, tambahnya.

Keluh kesah juru parkir

Menjadi juru parkir bukanlah pekerjaan yang sepele dan ringan. Pak Bagyo telah membuktikan itu. Hampir setiap hari dia menghadapi masalah-masalah di jalan raya terkait dengan parkir. Sangat beragam. Mulai dari benturan dengan aparat keamaan, bahkan dicurangi oleh pelanggan(pengguna) parkir. Selain itu dia juga harus terus berlari untuk menjemput setiap kendaraan bermotor yang hendak ataupun yang habis menggunakan jasa parkir. Hilir-mudik kendaraan bermotor membuat dia tidak bisa diam barang sebentar saja. Hampir setiap satu menit selalu ada mobil dan motor yang datang dan pergi.

yo ngene iki mas ranase parkir, mlayu mrene mlayu mrono. Masalae nek ora ngene seng parkir podo nglimpe, lungo kabeh ra’ ono seng gelem mbayar (ya begini ini rasanya menjadi tukang parkir, lari kesana-kemari. Soalnya kalau tidak seperti ini banyak pengguna parkir yang seenakny saja, pada tidak mau membayar)”, cletuknya ketika saya mendatanginya.

Pernah juga dia hampir cek-cok dengan seorang cewek pengguna jasa parkir yang dia ampu. Itung-itung mendapat tip, cewek itu malah membayar tarif parkir hanya setengah dari ketentuan biasa, seribu rupiah. Yang membuat Pak Bagyo semakin jengkel adalah ketika dia disodori uang seratus ribuan, anggapannya tidak ada uang kembaliannya. “Adanya cuma ini pak, yang lain segini”, kata cewek tadi seraya menyodorkan nominal uang seratus ribu rupiah.

iku ngono sak jane aku ngerti maksute, dikirone aku ra’ iso njujuli. Padahal sakjane aku iso njujuli {saya paham sebenarnya yang dia maksud mas, dikira saya tidak ada uang kembalian. Padahal kalau mau saya ada uang kembalinnya}, cerita pak Bagyo.

Tidak sampai disitu saja. Sebagai juru parkir yang telah berijin, pak Bagyo selalu rajin membayar retribusi parkir kepada dinas perhubungan, namun kerajinan pak Bagyo nampaknya berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di dinas perhubungan. Dia sering menjumpai petugas yang dia setori tidak membubuhi tanda tangan di kwitansi yang dia berikan. “saya menangkap ada indikasi kecurangan waktu itu, karena masalahnya akan berbeda ketika mereka membuat laporan kepada atasan nanti. Nominal dan tanda tangan bisa diubah”, ujarnya sambil bercerita panjang lebar ikhwa korupsi di Indonesia.

Pernah juga Pak Bagyo mendapat masalah dengan apara keamanan, polisi, waktu salah satu saudaranya ketangkap polisi. Alasan penangkapannya adalah penggunaan karcis palsu. Karcis yang asli dia fotokopi sedemikian rupa. Kebetulan ada polisi yang lagi markir kendaraan di wilayah operasi saudara pak Bagyo tadi. Awalnya sempat tidak ketahuan, namun tidak beberapa lama berselang polisi tadi datang lagi dan langsung menangkat saudara Pak Bagyo.

Sebagai konsekuensinya Saudara pak Bagyo dicabut ijin parkirnya untuk sementara. “Polisinya waktu itu sempat kecelek dengan karcis tadi, tapi tidak lama polisi itu datang lagi dan ditangkapnya saudara pak Bagyo”, cerita Pak Onik yang menyaksikan kejadian itu secara langsung. Pak Onik sendiri adalah pengusaha warung makan di bilangan jalan C. Simanjuntak, area Pak Bagyo bekerja.

Selain itu semua, bahaya yang dirasa paling besar menurut Pak Bagyo adalah ketabrak kendaraan bermotor. Bayangkan dia harus terus bergerak di tengah hilir mudik kendaraan yang tidak pernah sepi, “apalagi sekarang banyak sekali pengguna sepeda motor, selain itu pada ngawur pas ngendarainya”.

***

Saban harinya Pak Bagyo menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk menjadi tukang parkir. Dari jam satu siang dia sudah harus stand bay di lokasi dengan pelbagai perlengkapan, karcis dan alat untuk mencatat, dan akan berakhir ketika jam menunjukkan jam lima sore. Pagi hari adalah waktu pak bagyo untuk sejenak berkumpul dengan keluarga dan istirahat, maklum dia sudah tidak muda lagi.

Namun hari ini nampaknya pak Bagyo tidak bisa full time menjaga parkir. Sekitar jam dua ada khabar mendadak yan tidak bisa disepelekan oleh pak bagyo. Waktu di tanya perihal masalah yang datang, dia belum bisa bercerita. Nampaknya urusan itu sangat pentin. Bahkan saya sempat diajak untuk ikur serta, namun saya tidak bisa karena saya kira ini adalah urusan keluarga yang tidak sembarang orang bisa tahu. Kalau mau, saya dijanjikan dia untuk datang lagi tepat pukul tiga untuk kembali lagi menjadi tukang parkir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s