Wakhid, Ayam Pun Turut Berduka Atasmu

(6/9/11)

Betapa besar kepedulian ayam terhadap manusia, meski harus sampai ke alam baka.

Beberapa saat setelah menyunggingkan senyum melihat Timnas Indonesia dihempaskan Bahrain, saya segera menuju Utara Desa. Tadi sore, sebelum bermain sepak bola, Pak Amin mengumumkan bahwa jenazah Wakhid akan diberangkatkan dari Kuala Lumpur sekitar pukul empat sore waktu setempat. Kira-kira pukul tiga jam Indonesia. Bisa diperkirakan jenazah akan sampai di desa kami pukul delapan malam. Kalaupun molor, paling-paling jam sembilanan diprediksi sampai rumah.

Malam itu, Lembor benar-benar berkabung.  Dari depan warung kopi “Mbak Siti”, orang-orang sudah berjejal di sepanjang jalan. Tua, muda, laki, perempuan, anak-anak, ibu-ibu, dan tentunya pemuda berbaur di sana. Di desa kami, kekerabatan masih sangat terasa, meskipun sesekali sering terjadi cekcok. Udara malam yang semakin berhembus kencang tidak lagi digubris. Apalagi kekelahan Indonesia atas Bahrain beberapa menit yang lalu. Yang ada di otak mereka sekarang adalah kedatangan jenazah seorang kawan yang sedang merantau di Malaysia.

Mobil ambulan yang dinanti tidak segera muncul, hal ini semakin membuat senewen penunggu yang sedari tadi tampak sudah tidak sabar lagi. Setiap ada mobil yang lewat, selalu dianggapnya ambulan yang datang membawa jenazah. Selalu seperti itu dan seperti itu. Setelah hampir sejam menunggu, ambulan yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Oranng-orang langsung memburunya, berebutan melihat jenazah muda itu. Sebagian mungkin bilang, “Khid, akhirnya kamu nyampe rumah juga, meski dalam keadaan mati”. Ya, Wakhid, si mayat, telah sampai di rumah mungilnya, dia telah kembali “menginjakkan” kakinya di desa yang mengajarinya hidup, mengajarinya ngaji, dan tentunya membiasakan dirinya ngopi sampai dini hari. “Ya, selamat datang di rumahmu, Khid”, kataku dalam hati.

Wakhid, sebenarnya saya tidak dekat dengan bujang satu ini. Meskipun demikian, kami saling mengenal, menyapa, dan terkadang berada dalam satu meja di warung kopi. Jujur, sama sekali tidak ada memori tentang Wakhid dalam otak ini. Setahu saya, selama delapan bulan terakhir ini dia memutuskan untuk mengadu nasib di Malaysia. Seperti kebanyakan warga desa saya, Malaysia masih menjadi tempat menggantung asa terbesarnya. Menurut kabar yang beredar, beberapa saat setelah kecelakan itu, Wakhid berencana menelepon keluarga yang ada di Lembor. Sembari mengendarai motor salah seorang bosnya, dia keluar untuk membeli pulsa. Dalam perjalan pulang membeli pulsa—ada yang bilang perjalan beli pulsa—kecelakan itu terjadi. Dia dikabarkan mengalami tabrakan hebat dengan sesama pengendara motor. Saya tidak mengetahui, apakah dia langsung menghebuskan nafas terakhir seketika itu juga, atau sempat dilarikan ke rumah sakit.

Berbarengn dengan kecelakan itu, Indonesia juga sedang babak belum dipecundangi Iran di Teheran, 3-0. pertengahan babak pertama saya mendapat kabar dari salah seorang kawan bahwa ada nonton bareng di sekitaran warung kopi “Mbak Siti”. Saya dan Udin bergegas kesana. Tidak nonton bareng yang kami dapat, melainkan sebuah berita pilu ikhwal kematian seorang kawan, Wakhid, di Malaysia. Jujur, pada awalnya saya ingin mengumpat, karena teman saya berhasil mengibuli saya perihal nontong bareng, akan tetapi setelah mendengar berita itu, umpatan itu saya simpan dalam-dalam, buat cadangan kapan-kapan.

Wakhid kini telah sampai di rumahnya kembali, meski dengan kondisi yang tidak diharapakan. Beberapa orang sudah bersiap memegangi ibunya jikalau tahu-tahu dia melompat histeris. “Ibunya sip, sudah ikhlas”, kata Cak Masud. Hanya sebentar dia mampir di rumanya, oleh karena dia harus segera dibawa ke masjid untuk disalatkan. Pak Amin memimpin rombongan yang akan menyolati. Sebagian orang sudah berbondong ke kuburan yang sudah digali sedari sore tadi. Saya, Toni, dan beberapa teman menunggu di pelataran Mejid Kulon. Sebagian orang masih berbincang. Entah apa yang dibincangkan. Tampaknya apapun di desa ini bisa menjadi bahan obrolan yang menggiurkan.

Keranda sudah keluar Mejid Etan. Bersahutan kalimat tahlil dari para pengiring di belakangnya. Saya segera berdiri memberi hormat kepada penghuni keranda itu. Diam-diam saya pun melantunkan kalimat tahlil itu. “La ilaha illa Allah”, pengiring saling bersahutan. Tampak hening. Rombongan itu menuju barat desa: makam. Selain yang mengikuti di belakang keranda mayat, di dekat pemakaman sudah menunggu rombongan lain. Tampaknya semua orang ikut larut dalam musibah ini, bahkan mereka yang selama hidupnya tidak pernah punya rasa iba sekalipun.

Melihat sambutan warga yang begitu besar, muncul pertanyaan bodohku, siapa sih Wakhid, kok sampai segitu besar penyambutnya? Seketika itu muncul jawaban, bahwa ini adalah Lembor. Ini adalah bentuk kultur masyarakat desa yang masih sangat kental kekeluargaannya. Mungkin tidak hanya Wakhid, siapapun itu, akan mendapatkan perlakuan laiknya Wakhid.

Prosesi pemakaman berlangsung dengan khidmad tapi relatif santai. Banyak gojekan kere di sana-sini. Kebiasaan di warung kopi ternyata ikut ke bawa meski seorang itu telah berada di sebuah pemakaman. Untung saja tidak ada cangkir-cangkir kopi di tiap sudut-sudut makam. Pal Modin Muda yang sedari tadi menunggu urugan terakhir langsung menghampiri makam. Saya kurang begitu ingat apa yang dikatakan oleh Modin itu, yang jelas, sebagai Modin, tugasnya ketika di kuburan adalah mentalqin mayat agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Munkar dan Nakir. Ya, semacam guru privat gitu lah!

Ada yang lain dalam pemakaman Wakhid kali ini. Selama prosesi pentalqinan mayat oleh Modin, tampat seekor ayat betina tertali di sudut gundukan makam Wakhid. “Oleh karena Wakhid meninggalnya masih lajang, maka dia butuh teman perempuan di kuburannya,” kata salah seorang teman saya. Malang tak bisa ditolak, ayam yang nampaknya sudah begitu siap untuk menemani si Mayat ternyata dilepas oleh Modin muda dan dikembalikan lagi kepada si pengikat. “Ayamnya dibawa pulang aja, Pak!”, kira-kira begitu yang disampaikan Modin. Tidak begitu jelas apa yang diomongkan.

Saya pribadi memaklumi keputusan yang diambil oleh Modin muda. Dia tidak mau momen ini diwarnai dan dibumbui oleh sesuatu yang tidak “sejalan” dengan tuntunan agama, karena setahu saya, tidak ada tuntunan yang mengatakan setiap mayat yang mati dalam keadaan lajang harus dicarikan teman atau pendamping ketika meninggal. Bisa berupa ayam, bebek atau apalah itu. Yang jelas, apa pun itu alasannya, keluarga mempunyai niat yang baik untuk membuat Wakhid tidak kesepian di makam.

“Ayam malang,” kataku. “niat baikmu untuk turut berbela sungkawa belum bisa kesampaian, Yam!” tambahku dalam hati.

Lembor-Yogyakarta, 19-09-2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s