dsafsd

—Suatu Sore di bawah Barongan—

“Yu’lanu ‘ala kulli tholibin, li ‘an yajtami’u tahta al-khashab” 

Hari itu begitu terik rasanya. Tidak ada toleransi cuaca sama sekali. Panas begitu menyengat. Meskipun demikian, tidak menyurutkan sebuah niat untuk sekadar menimba ilmu ke luar desa. Beberapa hari yang lalu, Pak Bayinan meminta ijazah kami; Saya, Eti, Wiwin, Ari. Semuanya nama sebenarnya. Ijazah itu akan digunakan untuk memenuhi persyaratan kami masuk ke Al-Ishlah, pesantren muda nan baru—didirikan tahun 1986—yang kala itu sedang ngetrend dengan kualitas bahasanya.

Dengan menyewa truk kami segera berangkat ke tempat tujuan. Kira-kira sekitar duapuluhan orang mengiringi kami. Tentu saja semuanya adalah anggota keluarga, dan saya hanya ditemani oleh bapak saya, sedangkan adik saya memilih untuk tinggal di rumah. Truk berjalan dengan kecepatan sedang. Tidak cepat dan tentunya tidak terlalu lambat. Sekitar pukul setengah lima sore saya sampai di lokasi. Segera, segala persaratan administrasi dipenuhi. Mulai dari membayar uang gedung sampai kelengkapan data diri. Gaduh.

Kegaduhan tidak hanya menyelimuti kami. Hampir semua orang yang di situ juga gaduh, berisik, dan pikuk. Semua mau agar anaknya yang terdaftar duluan. Saya sendiri tidak tau maksudnya apa, karena saya sendiri tidak terlalu terlibat dalam kehirukan itu. Cukup bapak saya. Setelah semua beres, dia berpesan kepada saya untuk menjaga diri, nurut dan belajar dengan sungguh. Sembari menyudahi khutbah singkatnya, tidak lupa dia menyelipkan beberapa lembar uang dalam sakuku untuk satu bulan ke depan. Dibanding dengan teman-teman yang lain, nampaknya sangu yang saya peroleh jauh lebih kecil jumlahnya. Pingin rasanya berontak, akan tetapi memang kondisi yang memaksa saya untuk tidak melakukannya. Saya cukup sadar dengan keadaan keuangan yang ada akhir-akhir itu.

Setelah memilih sebuah kamar dan menempatinya, segera rombongan yang mengantarkan kami pulang ke desa. Jujur saya tidak tahu bagaimana perasaan para orang tua yang melepas anaknya ketika pulang, karena saya tidak pernah bertanya ikhwal itu. Yang ada dipikiran saya waktu hanya satu, pondok saya ternyata tidak berbeda dengan rumahku; berada di tengah-tengah hutan bambu. Orang sekitar menyebutnya barongan.

Mulai saat itulah, sore-soreku akan aku lalui dengan naungan rimbun pohon-pohon bambu. Desir suara dan sesahutan riuh menjadi hiburan tersendiri bagi sebagian santri yang memang terbiasa menikmatinya. Barongan bagiku bukanlah sesuatu yang aneh, hal ini lantaran persis di depan rumahku juga ada pohon bambu, tapi itu dulu, beberapa tahun yang lalu. Karena ada rencana pembenahan rumah di sana-sini maka pohon bambu—dan jati—harus rela untuk ditebang. Yang tersisa hanya pohon jambu air dan beberapa batang pohon tebu—tentunya berbeda dengan tebu-tebu sepanjang Jombang-Ngawi.

Ini jauh sekali dari perkiraanku sejak awal. Aku beranggapan mestinya sebuah pondok pesantren, paling tidak, mempunyai sebuah bangunan yang jauh lebih layak. Hal ini minimal bisa melegakan santri yang nantinya bakal tinggal jauh dengan kedua orangtuanya. Selain itu, berkeca dengan beberapa pesantren yang sempat saya sambangi, rata-rata memiliki bangunan-bangunan yang bagus.

Rata-rata mempunyai dua lantai. Selain itu, tentunya bangunan yang lebih modern. Berbeda halnya dengan pesantren baruku ini. Suasana begitu jauh dari perkiraanku. Bangunan-bangunan yang berbahan kayu laiknya gubuk di pinggiran desa masih berdiri kokohi di sana-sini. Bahkan sangat mungkin sekali, ketika hujan turun pasti akan terjadi bocor masal pada setiap bangunannya. Memang tidak semua bangunan berbahan kayu, ada beberapa yang sudah dibangun dengan pondasi tembok. Misalnya Dar Thoriq ibn Ziyad—asrama laki-laki, Dar Rabithah untuk asrama putri yang masing-masing dibangun dengan dua lantai. Selain itu ada kantor guru+ustad dan tentunya rumah kiai yang berbahan ubin. Selain itu kayu semua.

Eit, nanti dulu! Mari kita menjauhkan prasangka cela kita terhadap kesederhanaan yang “keterlaluan” ini, karena sejarah, serta fakta membuktikan bahwa bangunan-banguna itu telah melahirkan pribadi-pribadi tangguh, yang tidak cengeng, dan siap untuk sekadar hidup melarat. Saya belajar banyak dari itu. Belajar dengan membawa buku pelajaran adalah hal yang biasa. Belajar dengan bimbingan guru dan ustad itu lumrah. Akan tetapi belajar dari lingkungan dan keadaan sekitar itulah yang berkesan. Jujur, saya kagum dengan beberapa kawan yang notabene berlatar belakang “uang” rela berdesak-desakan di balik meja makan, cuci muka dengan air yang baunya anyir minta ampun, dan terkadang harus dihadapkan dengan kondisi septic tang yang nyauzubilah.

Kini, barongan  itu perlahan habis. Pohon-pohon bambu itu sudah enggan tumbuh lagi. bukan apa-apa, karena orangnya saja yang enggan membiarkannya tetap tumbuh. Sementara dulu, bambu seenaknya saja berdiri di sana-sini. Sekarang tidak demikian. Bagi beberapa orang, mungkin pohon-pohon ini—yang kata si Kancil adalah perwujudan dari seruling Nabi Sulaiman—tidak bermaksa sama sekali, akan tetapi bagi pohon ini adalah simbol. Kalau Golkar sangat bangga dengan beringinnya, gereja bahagia dengan cemara natalnya, maka saya akan bilang bahwa pohon bambu adalah simbol pesantrenku itu. Dia seolah-olah berjalan searah dengan dinamika pesantren itu sendiri. Bambu adalah kemakmuran, maka ketika bambu-bambu itu tertebas, maka jangan heran jika itu menandakan bahwa kemakmuran itu juga akan tertebas.

Saat ini, mustahil untuk kembali menumbuhkan bambi-bambu itu, barongan-barongan itu. Yang bisa dikejar adalah suasana barongan. Suasana sejuk, suasana tentran, dan suasana Kampung Damai—seperti yang sering diagung-agungkan dalam lagu-lagu kami.

Al-Islah Pondok-ku

Kampung damai!

One comment

  1. chirzin · September 27, 2012

    tidak ada yang mustahil untuk menumbuhkan bambu-bambu itu lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s