Coretan Ringan Ikhwal Pesantrenku*

Suasan pesantren pada suatu siang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Obrolan ini bermula dari sebuah warung kopi di pinggiran kota Yogyakarta. Di siang yang terik itu, salah salah seorang kawan sesama santri, yang kurang lebih sudah empat tahun berada di Yogyakarta, memancing obrolan mengenai keadaan santri di pondok pesantren tempat tempat saya belajar dulu.

“Keadaan arek-arek udah parah Bib, tidak seperti kita dulu pas masih nyantri,” pancingnya.

“Emang gimana toh keadaanya, apakah sudah separah itu?” tanyaku.

“Ya, kayaknya seperti itu keadaannya. Semakin hari semakin menurun kualitasnya”, timpalnya.

“Beberapa hari yang lalu ada yang ngajak untuk ikut serta dalam sebuah training of motivation kepada santri-santri di pesantren,” jelasnya.

Emang motifasi yang seperti apa toh yang mereka tawarkan? Aku sendiri kurang begitu yakin dengan pelatihan  itu. Apa tidak cukup kemampuan Pak Yai untuk sekadar memberi motifasi? Terus apa gunanya kuliah subuh?” tanyaku lagi.

Dari obrolan singkat itu saya menangkap sebuah keadaan yang sangat kompleks di pesntren. Dan “santri”-lah yang menjadi aktor utama obrolan itu. Sekilas, keadaan itu benar adanya, hal ini bisa ditilik dari kualitas dan etos santri yang telah lama hilang. Akan tetapi menjadi pertanyaan besar di benakku—selaku santri. Kenapa harus santri yang menjadi kambing hitam? Kok tidak yang lain, ustad, kiai, pengurus mungkin. Atau bahkan sistem pendidikan yang sudah tidak relevan? Sungguh ini pertanyaan mendasar yang selalu menggangguku.

“Santri sekarang cengeng, tidak tahan banting. Dipukul sedikit langsung mengadu kepada orangtua, dan tiba-tiba minta untuk keluar pondok,” sebagian berpendapat. Sebagian yang lain mengatakan bahwa santri sekarang tidak seperti santri dulu. Dulu santri baik, penurut dan pribadi yang taat. Sekarang, mereka lebih “liar”, arogan, dan kurang taat peraturan. Konon kabarnya, maju dan mundurnya sebuah pesantren tergantung pada santri yang berada di dalamnya.

Arnold Toynbee mengatakan, manusia dan peradabannya akan mengalami tiga fase penting: tumbuh, berkembang, dan mati–Asvi  Marwan Adam mengistilahkan teori Toynbee ini dengan lahir, kawin, dan mati. Begitu juga dengan sebuah institusi pendidikan yang akan mengalami tiga fase dasar kehidupan itu. Muhammadiyah dan NU misalnya. Dua organ ini pernah mengalami tumbuh, berkembang dan akhirnya perlahan demi perlahan muncul permasalahan yang saling berkelindan satu dengan yang lain. Karut marut keputusan mewarnainya. Dan mau tidak mau, Muhammadiyah serta NU harus mengalami sebuah fase yang disebut masa kemunduran. Begitu juga dengan pondok pesantren.

Pesantren, meminjam istilah Mastuhu yang diamini oleh Ki Hajar Dewantara merupakan sebuah institusi pendidikan yang cukup tua yang menggabungkan sistem pendidikan Islam dan kearifan lokal. Lambat laun, karena pelbagai persoalan, pesantren mengubah orientasi pendidikannya denan memasukkan sistem pendidikan modern yang banyak diterapkan oleh sekolah-sekolah Eropa kala itu. Ahmad Dahlan, salah satu tokoh yang berperan dalam perubahan paradigma pesantren, melihat keadaan umat Islam yang jauh tertinggal dengan umat lain. Tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan membaca kitab dan berbahasa Arab, kebutuhan pendidikan waktu itu yang paling penting adalah ilmu-ilmu alam dan kemampuan berbahasa Belanda. Dan Ahmad Dahlan tidak segan-segan menerapkan itu. Setali tiga uang dengan Dahlan, Hasyim Asy’ari juga melakukan hal serupa. Meskipun masih memberi porsi berlebih terhadap pendalaman kitab, dia juga mulai memperkenalkan sistem pendidikan modern kepada muri-muridnya.

Pertanyaannya adalah, kenapa Ahmad Dahlan dan Hasyim Asyari mengubah itu semua Transformasi pendidikan jawabnya. Mereka melihat sistem yang lama nampaknya sudah tidak lagi merespon kebutuhan santri serta zaman, oleh sebab itu mereka mengubahnya.

Kasus serupa juga dialami oleh pesantren tempat saya belajar dulu. Ada semacam kemunduran yang sangat drastis, terutama berkaitan dengan identitas pesantren. Dan saya—karena saya adalah santri—menolak dengan sangat keras jika faktor yang paling dipersalahkan adalah santri.

“Ya karena sekarang santrinya sulit diatur,” beberapa argumen bilang.

Ibarat manusia, pesantren adalah tubuh. Tubuh memiliki tangan untuk menulis, dia memiliki kaki untuk menapak, dia memiliki kepala untuk berpikir, dia memiliki mata untuk sekadar mengintip, dan dia punya badan untuk menggerakkan seluruhnya, begitu pun dengan pesantren; kiai sebagai otak, santri sebagai kaki, masjid sebagai baju, sistem pendidikan sebagai tangan, dan semua-muanya saling terkait satu dengan yang lainnya. Tidak bisa kita menyalahkan salah satu jika badan tidak bisa bergerak dengan lincah lagi. Jika memang santri menjadi faktornya, jelasnya ada masalah lain yang menyebabkan si santri tidak berjalan dengan mestinya. Bisa sistemnya, bisa juga ustadnya.

Satu hal yang belum saya lihat di pesantren saya adalah dilibatkannya santri non-pengurus–karena ada santri yang menjadi pengurus–dalam berdiskusi membicarakan kebijakan pesantren. Kesannya ini muluk-muluk, tapi Ahmad Dahlan pernah melakukan itu ketika mendirikan Muhammadiyah. Memang, pada dasarnya kapasitas mereka belum bisa diandalkan, tapi paling tidak sistem yang berjalan itu bisa mengakomodasi kebutuhan dan kehendak mereka. Tak harus sekaligus, tapi yang jelas harus ada perwakilan santri dalam setiap pengambilan kebijakan.

Apalagi kemudian selalu membadingkan psikologi santri sekarang dengan santri dulu. Ibaratnya, santri dahulu lahir di zaman Arya Kamandanu yang berlatar Majapahit, sementara santri sekarang lahir di zaman Doraemon yang berlatar Kebun Belakang Sekolah. Secara kultur dan lingkungan sudah jauh berbeda. Tidak harus secara frontal mengubah sistem, tapi diperlunak sehingga kami para santri pasti akan semakin mawas diri.

NB: Ini hanya catatan dan curahan hati seorang santri yang sudah tidak “nyantri”. Salam santri Buki, sandale kayu jati!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s