Ada ‘SMP Muhammadiyah 12’ di Meja Belakang Warung Kopi

Jumat, 19 Agustus 2011, tepat setelah beberapa saat menghabiskan pulukan terakhir hidangan bukaku, saya memutuskan untuk menyegerakan diri sembahyang maghrib. Kira-kira pukul enam lebih seperempat. Sembari beranjak ke mushola belakang warung kopi saya sempatkan untuk memesan secangkir kopi biasa terlebih dahulu. Harapannya nanti setelah salat, kopi segera bisa terhidang. Setelah membereskan transaksi dengan si kasir, Ayu, saya segera melompat ke belakang.

Belum sempat sampai di mushala, mata saya dikejutkan oleh seonggok majalah dengan nama Teras Mudalas, yang berjargon “Media Kreasi, Informasi, dan Aspirasi Warga SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung”. Sontak ini mengagetkanku. Apa lacur, majalah itu menyebutkan sebuah identitas yang sangat tidak asing di telinga ini; SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung. SMP yang hampir tiga tahun saya belajar dan mbondet di dalamnya.

Tanpa pikir panjang saya segera memungut majalah yang tergeletak lemas di atas meja warung itu. Dengan cover yang begitu ceria saya terus menghayati ketertegunanku dengan majalah itu. Sketsa wajah Ki Hajar Dewantara yang sengaja dibikin abstrak juga tidak luput dari selidikku. Tidak mau kalah, gambar yang menghiasi sampul muka itu terkesan memelototiku syahdu. Seakan dalam benaknya berkata, “hai kau bekas murid SMP Sendang, ngapain lu mlototin gue?”.

Tanpa pikir panjang, tentunya juga tidak memikir siapa gerangan empu majalah, saya membawanya ke mushala. Saya menaruhnya di pojokan, dengan harapan tidak ada yang kembali mengambilnya. Jujur selama berlapor dengan Sang Maha Mengerti konsentrasi sepenuhnya tertuju pada majalah berwarna biru langit itu. “Maaf Tuhan, saya tidak bermaksud menduakan Anda”, batin ini seakan berujar.

Salat telah rampung, dan ternyata kopi juga telah terhidang. Terimakasih kawan Anshori atas kopi cepatnya. Saya segera menuju meja depan, tempat saya sedari qoblamaghrib tadi. Dengan sedikit bangga, saya menunjukkan keberadaan majalah itu ke beberapa kawan saya. “ Lihat ini. Majalah bikinan SMP-ku dulu”, kataku petang itu.

Perlahan saya buka lembaran demi lembaran majalah sederhana itu. Hari Pendidikan Nasional yang berlangsung pada Mei menjadi tema utama majalah itu. Oleh sebab itu Ki Hajar menjadi model sampulnya. Aku yakin Ki Hajar tidak pernah meneken kontrak dengan SMP 12. Sembari menikmati tiap halamannya, saya berasa dibawa ke romantisme-romantisme beberapa tahun yang lalu, romantisme di kala kami harus selalu kucing-kucingan dengan kawan-kawan perempaun, akan tetapi saling intip ketika senggang.

Sampul depan majalah “SMP 12”

Menjelang pungkasan majalah, wajah Ibu Hariyati menyapaku lewat foto imutnya. “Saya kangen Anda, walikelasku,” bisikku.

Kembali merangkai “jembatan merah” memori waktu SMP adalah sebuah kenikmatan yang tiada duanya, bahkan oleh orgasme sekalipun. Memori-memori itu terangkai indah laiknya jajaran kepulaua di Nusantara. Awal datang di sana, muncul semacam nada optimis yang seolah mengatakan bahwa ‘suatu saat ente akan sukses di sini’.

Tahun 2000 pertama kali menginjakkan kaki di palataran SMP 12. Jajaran gedung yang amat sederhana seolah melambai untuk segera dijamah. Bangunan leter U begitu kontras satu dengan yang lainnya. Bagian timur, bangunan lama yang sudah permanen, yang pada masa awalku diperuntukkan untuk bocah-bocah baru. Agak bergeser ke selatan, deretan “gubuk” sederhana saling berebutan dengan pongahnya pepohonan bambu samping sekolah. Bangunan ini diperuntukkan untuk mereka yang telah tamat di bangunan timur. Berbeda dengan dua bangunan di sebalah timur dan selatan, bangunan sebelah utara terlihat lebih angkuh dan sombong. Rencananya akan dibangun dua lantai. Sayang, tebalnya tembok bangunan baru hanya  bisa dinikmati oleh mereka yang tengah menempuh tahun terakhir di SMP pedalaman itu.

Satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun akhirnya berhasil saya lalui di SMP yang mulai berbenah ini. Namun sayang, sekalipun saya telah menginjak tahun ketiga di SMP Muhammadiyah ke-12 di kecamatan Paciran ini, saya tidak kunjung menikmati kokohnya bangunan sebelah utara. Apa lacur, muncul sebuah kebijakan baru, dengan menempatkan kawan-kawan kelas tiga di bangunan bagian timur. Bangunan yang sudah tidak asing lagi bagiku. Bedanya, saya dulu tepat berada di ujung selatan berdekatan dengan kantor guru, dan sekarang saya berada di ujung utara, di kelas yang di depannya bertuliskan “Kelas III A”. hehehehehe..

Salah satu rubrik majalah

Selepasnya dari SMP 12, ada rencana besar untuk melanjutkan tahapan pendidikan di tanah Hamengkubuwana X, Yogyakarta. Beragam rencana sudah saya siapkan, termasuk persiapan finansial. Untuk mengejar waktu tes, saya terpaksa meninggalkan Mudalas tanpa perpisahan formal. Sayang, perjuangan di Yogyakarya berbuah tidak begitu Indah, dan memaksa saya untuk kembali bersua dengan SMP pinggiran ini.

Dan hari ini, saya dipaksa untuk kembali bersua dengan memori itu. Meski dalam bentuk yang berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s