Pesisir Lamongan yang Unik

Sebelum  Anda dengan sembarangan mengenal Paciran, sebaiknya kita kulik-kulik sedikit dulu induk semangnya: Kabupaten Lamongan. Hal ini dikarenakan masyarakat Paciran sendiri, yang berada di bagian utara Lamongan, tidak bisa lepas begitu saja dari heterogenitas dan keberagaman masyarakat di Kabupaten Lamongan.

Berdasarkan manuskrip Hari Jadi Lamongan, Kabupaten Lamongan secara resmi berdiri pada 26 Mei 1569, saat Raden Ronggo Hadi dilantik sebagai Bupati Lamongan untuk pertama kalinya oleh Raden Paku atau yang lebih dikenal dengan Sunan Giri. Ronggo Hadi, selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan Tumenggung Surajaya. Berdasarkan beberapa penemuan sejarah, Lamongan tenyata telah didiami oleh masyarakat sekitar 300 tahun Sebelum Masehi. Ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa peralatan yang dipakai di zaman prasejarah seperti kapak corong, candrasa, dan gelang-gelang di desa Mantup, Kecamatan Mantup, serta nekara dari Perunggu di desa Mekanderejo, Kecamatan Kedungpring. Meski demikian, hal ini masih bisa menjadi bahan diskusi kita untuk ke depan.

Pesisir Lamongan yang Gersang dan Bergambut

Masih tentang Kabupaten Lamongan, kabupaten ini sendiri masuk dalam pola pengembangan tata ruang Jawa Timur yang tergabung dalam satuan wilayah pengembangan GERBANG KERTASUSILA (Gersik, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan). Secara geografis, Kabupaten Lamongan berada di koordinat antara 6 51’54” dan 7 23’6” garis lintang selatan dan antara 112 4’44” dan 112 33’13” garis bujur timur. Adapun untuk wilayah-wilayah perbatasan, sebelah utara terbentang Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gresik, selatan berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang, sebelah barat dengan Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro.[1]

Masih dalam tinjauan geografis, luas Kabupaten Lamongan adalah 1.812,8 Km² atau setara dengan 181.280,800 Ha, yang meliputi 3,78% wilayah Jawa Timur. Daerahnya dibelah menjadi dua bagian oleh sungai Bengawan Solo yang membentang sejauh 65 Km. Oleh karena itu sebagian besar dataran Kabupaten Lamongan merupakan dataran rendah. Curah hujan di Kabupaten Lamongan juga tergolong sangat rendah, sekitar 1.605 mm/tahun. Jadi, secara fisiogragi tingkat kesuburan tanah, wilayah Kabutapen Lamongan dibagi menjadi tiga karakteristik;

Pertama, daratan bagian tengah-selatan, yaitu kawasan yang berada di sebelah selatan terdiri dari dataran rendah yang relatif subur, meliputi wilayah Kecamatan Babat, Pucuk, Sukodadi, Lamongan, Kedungpring, Sugio, Kembangbahu, Deket, dan Tikung. Di wilayah ini juga terdapat 25 waduk irigasi sebagai pendukung sektor pertanian, sebagian juga digunakan sebagai wahana rekreasi keluarga.

Kedua, daratan bagian utara terdiri dari daerah bonorowo yang rawan banjir. Bonorowo karena hampir sebagian besar wilayahnya adalah rawa-rawa dan sangat tidak berpotensi untuk pertanian. Oleh karena itu wilayah ini lebih banyak dimanfaatkan untuk pengembangan lahan tambak. Daerah ini tepat berada di seputaran bantaran sungai Bengawan Solo yang legendaris itu.

Ketiga, dataran bagian selatan dan utara yang terdiri dari sebagian berupa pegunungan–lebih tepatnya perbukitan–kapur dan sebagian berupa daratan agak rendah dengan tingkat kesuburan tanah rendah, meliputi Kecamatan Mantup, Sambeng, Ngimbang, Bluluk, Modo, Sukorame, Brondong, Paciran dan Solokuro. Namun demikian kawasan ini tertolong dengan hutan yang luasnya mencapai 17,57% wilayah Kabupaten Lamongan, dan di bagian utara terbentang kawasan pantai sepanjang 47 km yang kaya akan sumber daya peikanan dan wahana pariwisata[2]

Menurut karateristiknya, keadaan laut yang landai, tenang dan tidak dalam di bagian utara Lamongan sangat cocok untuk berbagai jenis alat tangkap, dari yang tradisional sampai yang modern. Selama bertahun-tahun masyarakat pantura Lamongan sangat tergantung pada potensi yang dimiliki oleh kabupaten Lamongan ini, yaitu laut.[3] Bahkan, pasang surut perokonomian masyarakat Pantura Lamongan juga sangat tergantung dengan pasang surut keadaan lautnya. Musim angin barat dan angin kencang menjadikan para nelayan tidak melaut. Bagi mereka musim ini adalah musim paceklik karena satu-satunya sumber matapencaharian mereka terhenti[4].

Ada dua kecamatan di Kabupaten Lamongan yang langsung berhadapan dengan laut, yaitu Kecamatan Brondong dan Kecamatan Paciran. Kecamatan Brondong merupakan kecamatan paling barat di Kabupaten Lamongan, yang langsung berbatasan dengan Kabupaten Tuban. Secara administratif bagian barat berbatasan dengan Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, bagian selatan berbatasan dengan Kecamatan Laren dan Solokuro, bagian timur berbatasan dengan Kecamatan Paciran, dan bagian Utara langsung dengan berbatasan dengan laut.

Secara umum keadaan geografis, Brondong dibagi menjai dua bagian, daerah pesisir dan pertanian dengan pembagian wilayah luas tanah masing-masing sebagai berikut; tanah sawah seluas  1.012,70 ha, tanah tegalan seluas 2564,50 ha, tanah pekarangan seluas 335,42 ha, tanah hutan seluas 1729,30 ha dan luas sisanya adalah 1371,70 ha dan total seluruh wilayah adalah 7.013,62 ha. Untuk wilayah pesisir meliptui desa Sedayulawas, desa Labuhan, Lohgung dan Brondong sendiri.

Brondong, dari dulu merupakan pusat ekonomi dan perdagangan masyarakat pesisir Lamongan. Oleh karena itu, wilayah ini mempunyai jumlah penduduk yang cukup padat dengan karakteristik kehidupan masyarakat yang sangat dinamis laiknya daerah perkotaan. Menurut Adzkiyak yang mengutip tesisnya Kusnadi bahwa karateristik masyarakat nelayan dibedakan menjadi dua, yaitu pesisir yang terbuka dan pesisir yang tertutup [5].

Selain kecamatan Brondong, wilayah yang langsung berhadapan dengan laut adalah wilayah kecamatan Paciran. Kecamatan Paciran terletak di jalur utama Pantura, yang menghubungkan Surabaya dan Semarang. Kalau ditenpuh dengan kendaraan bermotor kurang lebih 2 jam dari arah Utara Surabaya. Wilayah kecamatan Paciran sebelah timur berbatasan langsung dengan Kecamatan Panceng, yang sudah masuk Kabupaten Gresik, sebelah selatan dengan Kecamatan Solokuro, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Brondong. Secara umum, karakteristik masyarakat Pantai Utara Paciran tidak berdeda jauh dengan masyarakat di Kecamatan Brondong. Hal ini dikarenakan terdapatnya banyak persamaan antara keduanya, salah satunya adalah letak geografis dan watak masyarakatnya.

Perbedaannya terletak pada banyaknya desa yang ada di Kecamatan Paciran. Kecamatan Paciran mempunyai jumlah desa lebih banyak dibanding dengan kecamatan Brondong, meskipun untuk luas wilayah, Kecamatan Paciran lebih kecil dari Brondong. Secara keseluruhan luas kecamatan Paciran adalah 5.422,189 Ha dengan pembagian sebagai berikut; 3984 ha, sawah 392 ha, dan selebihnya berupa pekarangan dan hutan[6]. Untuk mempermudah pemahaman karakter masyarakat Kecamatan Paciran secara umum maka alangkah baiknya akan disebutkan nama-nama desa yang tersebar di Kecamatan Paciran.

Secara umum jumlah desa di kecamatan Paciran ada 17 desa. 15 dari  itu berada tepat berhadapan dengan laut, Blimbing, Kandansemangkon, Sumurgayam, Paciran, Tunggul, Kranji, Banjarwati, Kemantren, Sidokelar, Tlogosadang, Paloh, Weru, Sidokumpul, Waru Lor, adapun tiga desa yang tidak berhadapan langsung dengan laut adalah desa Drajat, Sendangagung, dan Sendangduwur. Meskipun demikian iklim kehidupan pesisir masih terasa kental mewarnai setiap interaksi dan komunikasai yang ada di tiga desa tersebut. Pembeda paling mendasar adalah mata pencahariannya, yaitu bertani.[7]

Setelah melihat letak geografi ketujuhbelas desa yang ada di Kecamatan Paciran, maka dapat dibagi keadaan Paciran secara umum. Paciran secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian: utara (pesisir) dan selatan (petani). Dari dua tipe itu dapat dilihat perbedaan yang sangat mencolok. Kehidupan mayarakat di bagian selatan, yang didominasi oleh masyarakat tani mempunyai kehidupan yang lebih statis dan tetap. Aktifitas keseharian mereka hanya berkutat pada pola pikir bagaimana merawat tanaman dan lahan pertanian mereka.

Berbeda halnya dengan kehidupan yang ada di daerah pesisir, yang mempunyai pola kemasyarakatan yang lebih dinamis. Keadaan ini dipengaruhi oleh tipologi laut yang dianggap sebagai sumber daya alam yang terbuka bagi semua orang. Tidak ada yang berhak mengklaim soal kepemilikan lahan di laut. Hal ini kemudian memicu pola kompetisi antar nelayan untuk mendapatkan hasil tangkapannya masing-masing.

Kompetisi yang berada di laut akhirnya berdampak pada kehidupan masyarakat  nelayan ketika berada di daratan. Dialektika masyarakat terasa begitu hidup dan bergairah. Keadaan ini semakin terasa lantaran kehidupan pesisir memungkinkan untuk mendatangkan penduduk dan individu-individu baru yang berasal dari luar daerah itu. Sebagai contoh adalah Gresik, Tuban dan Surabaya.

Ketiga kota pelabuhan ini mempunyai komposisi masyarakat yang bervariasi, mulai dari Tionghoa[8], etnis Arab, dan etnis-etnis daerah yang berasal dari luar Jawa. Hal ini dipengaruhi oleh terbukanya pola interaksi yang mewarnai ketiga kota pelabuhan itu. Tidak hanya di tiga kota pelabuhan itu, namun hampir di seluruh kota-kota pesisir akan ditemui hal yang serupa, heterogenitas. Keadaan masyarakat yang heterogen ini pada akhirnya akan berdampak pada corak kebudayaan masyarakat yang ditimbulkan, dalam hal ini adalah masyarakat pesisir Lamongan, tepatnya Paciran.

Relegiusitas dan Keberagaman Islam di Pesisir Lamongan

Sebelum beranjak membahas bagaimana kehidupan relegius di Paciran, dan berimbas terhadap kehidupan sosial secara umum di Paciran, penelitian ini akan mengajak para pembaca sedikit menengok ulang tentang proses kedatangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, dan lebih khusus lagi adalah di Jawa Timur. Islam datang, berkembang, dan pada akhirnya membentuk sebuah lembaga, melalui proses yang sangat panjang. Sekurang-kurangnya ada empat teori besar yang dikenal di Indonesia.

Pertama, Islam datang ke Indonesia berasal dari India. Teori ini dikembangkan oleh Drewes, yang kemudian diamini dan dikembangkan oleh Hurgronje. Hal ini dilandasi oleh banyaknya orang Indonesia yang bermazhab Syafi’i dalam menjalankan ritual keagamaannya, dan kebanyakan ulama yang menganut paham Syafi’iah berada di Gujarat dan Malabar. Meskipun agak berbeda, hal senada juga diamini oleh Hurgronje, menurutnya bahwa orang-orang Islam yang ada di Deccan, India telah menjadi satu kesatuan yang kokoh, dan mereka mulai menyebarkan Islam ke tempat lain, termasuk Nusantara dengan cara menjadi pedagang. Kebanyakan dari mereka adalah para keturunan Nabi yang kebanyakan bergelar syarif dan sayyid.[9]

Kedua, teori yang dikemukakan oleh Fatimi yang mengatakan bahwa Islam Indonesia berasal dari Bengal. Ashbabun nuzul-nya adalah nisan makam Malik As Saleh sama sekali berbeda dengan corak nisan yang ada di Gujarat, sedangkan nisan makam Fatimah binti Maimun di Gresik yang berangka tahun 1082 tahun Masehi memiliki kesamaan karakter dengan batu-batu nisan yang ada di Bengal[10]. Namun demikian, teori ini pada akhirnya juga mengandung beberapa kelemahan, lantaran di Bengal dan di Nusantara memiliki perbedaan terkait mazhab. Bengal sebagian besar bermazhab Hanafi, adapun di Indonesia pada umumnya adalah Syafi’i.

Ketiga, menurut Thomas W. Arnold bahwa Islam yang datang di Indonesia berasal dari Malabar dan Calamander[11]. Alasan dimunculkannya teori ini adalah adanya kesamaan madzhab antara di Indonesia dan Malabar. Teori ini juga dipertegas dengan pernyataan Morrison yang mengatakan bahwa tidak mungkin Islam berasal dari Gujarat. Meskipun terdapat persamaan dalam hal mazdhab antara Indonesia dan Gujarat, tapi dia percaya bahwa waktu itu belum memungkinkan Gujarat untuk menjadi sumber penyebaran dan juga belum menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan antara wilayah Nusantara dengan wilayah Timur Tengah.

Teori keempat lebih melihat dari beberapa manuskrip yang mempunyai kecocokan dengan teks-teks Arab. Teori ini beranggapan bahwa untuk melihat Islam di Asia Tenggara, yang harus dipertimbangkan adalah kajian terhadap literatur Islam Melayu Indonesia dan sejarah pandangan Melayu terhadap pelbagai istilah yang digunakan oleh para penulis Islam di Asia Tenggara kisaran abab ke 16-17 Masehi. Pernyataan ini diperkuat pula ketika dilaksanakannnya seminar sejarah masuknya Islam Indonesia di Aceh. Dalam seminar ini daerah yang pertama kali memeluk Islam adalah Aceh,[12] dan disebarkan oleh para pedagang Arab, khususnya Hadramaut dan Mesir.

Untuk waktu kedatangannya, terdapat dua pendapat umum yang sampai sekarang juga masih menjadi polemik diantara para sejarawan, khususnya yang mengkaji ikhwal sejarah masuknya Islam di Asia Tenggara secara umum. Pendapat pertama beranggapan bahwa Islam (di Asia Tenggara) masuk pada kisaran abad ke delapan Miladiyah. Teori ini dilandasi oleh sebuah analisis yang menjelaskan bahwa pada kisaran abad ke-8 telah ada beberapa orang Islam yang bemukim di Nusantara yang memposisikan dirinya sebagai pedagang sekaligus pendakwah. Karena pada kenyataannya, pada abad ke-7 telah terjadi perdagangan yang cukup masif antara Cina dan Sri Lanka, yang memungkinkan Nusantara menjadi salah satu daerah transit kapal-kapal perdagangan mereka[13].

Teori kedua cenderung memakai pendekatan politik, yaitu bagaimana memandang kurun kedatangan Islam di Nusantara dilihat dari perkembangan kerajaan-kerajaan berhaluan Islam yang tumbuh-berkembang di Nusantara. Secara tidak langsung banyaknya kerajaan dan kesultanan yang bernafaskan Islam itu menjadi sebuah media tersendiri untuk penyebaran Islam yang masif di Nusantara[14].

Kedatangan Islam ke Nusantara melalui jalur kerajaan inilah yang kemudian dapat digunakan untuk menganalisis bagaimana Islam pada akhirnya dapat menyebar dan berkembang secara massif di Jawa. Para ahli sejarah bersepakat bahwa kedatangan Islam di Jawa berkisar pada masa pertengahan sampai akhir pemerintahan kerajaan Hindu-Budha[15]. Bukti yang sampai sekarang masih menjadi pegangan para sejarawan adalah keberadapan makam Fatimah binti Maimun yang berada di Gresik. Dalam nisan makam itu tertuliskan angka tahun 1087 Masehi, yang pada waktu itu berbarengan dengan masa berkembangnya kerajaran Kahuripan yang dipimpin oleh raja Airlangga.

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana proses penyebaran dan pengembangan Islam di Jawa? Wilayah pesisir harus ditaruh pada posisi utama sebagai aktor penyebaran Islam di Indonesia, terutama di Jawa. Nama-nama pelabuhan besar macam Tuban, Gresik, Surabaya, dll. telah begitu nyata memposisikan dirinya sebagai jalan penyebaran Islam yang cukup efektif. Pelabuhan-pelabuhan itu pada masanya menjadi tempat transit para pedagang yang akan berdagang ke Majapahit.

Lambat laun, karena semakin banyaknya pedagang yang transit, muncul pemukiman-pemukiman yang berisikan para pendatang itu. Dalam menjalani dinamika kehidupan bermasyarakat, salah satu interaksi yang mereka tawarkan adalah penawaran dan pengenalan terhadap keyakinan baru.

Dari situlah kemudian proses penyebaran Islam dilakukan. Graaf dalam studinya membedakan ada tiga metode penyebaran Islam[16]; pertama, oleh pedagang muslim yang sudah lama menetap dan bermukim di Nusantara. Sampai sekarang teori ini masih banyak yang meyakini bahwa ini adalah embrio awal penyebaran Islam di Nusantara.

Penyebaran kedua, menurut Graaf, adalah diperankan oleh para orang suci, yang dalam penyebaran Islam di Jawa lebih dikenal dengan istilah wali. Anggapan sementara bahwa wali-wali ini adalah mereka yang khsus datang dari Cina atau Arab yang memang tujuan utamanya adalah untuk berdakwah dan melakukan proses Islamisasi terhadap mereka yang masih “kafir”, serta memantapkan pengetahuan mereka hal ihwal keislaman.

Ketiga adalah dengan peperangan. Perang dianggap sebagai jalan terakhir dalam penyebaran Islam. Hal ini dimaklumkan untuk memerangi daerah-daerah dianggap kafir, yang masih menyembah berhala. Gambaran tentang penyebaran Islam dengan peperangan mungkin dapat dilihat dari tulisan Pramudia Ananto Toer dalam roman Arus Balik. Dia melihat bagaimana proses penyerbuan tentara Jepara terhadap pelabuhan Tuban yang kala itu masih dikuasai oleh Majapahit.

Dari ketiga teori tentang penyebaran Islam di Nusantara, teori pertamalah yang sampai sekarang menjadi satu-satunya rujukan yang paling kuat. Hal ini dikarenakan maraknya dan pesatnya perdagangan yang ada di sekitaran pantai utara Jawa dan sebagian Sumatra. Namun demikian, kebenaran teori ini tidak lantas seluruh elemen mengamini. Beberapa sejarawan Barat menganggap bahwa teori ini juga memiliki beberapa kelemahan, salah satunya adalah van Leur dari Belanda. Menurutnya, sangat tidak mungkin Islamisasi yang begitu gencarnya hanya dilakukan dengan jalan perdagangan dan perkawinan belaka.

Selain van Leur, beberapa sejarawan lokal Asia juga mengajukan keberatannya terhadap teori perdagangan dan pernikahan ini, S.Q. Fatimi salah satunya. Melihat keadaan Islam yang ada di Indonesia, dia berpendapat bahwa penyebaran Islam di Indonesia dilakukan oleh para sufi yang berasal dari Bengal. Dia membandingkan Islam di Indonesia dan di Bengal mempunyai corak yang sama, yaitu banyak mengandung unsur mistik.[17]

Ternyata Fatimi tidak sendirian dalam mempertahankan tesisnya ini, karena ternyata banyak sejarawan yang menyokong tesisnya itu. Apalagi hal ini diperkuat dengan ditemukannya beberapa naskah yang menerangkan tentang penyebaran Islam melalui kegiatan mistik yang ada di Jawa. Selain itu para sejarawan yang mendukung teori Fatimi ini berpendapat bahwa sangat tidak mungkin para pedagang yang mempunyai motif utama berdagang melansungkan proses Islamisasi secara besar-besaran.

Secara umum, pakar-pakar yang mendukung pernyataan Fatimi ini meyakini bahwa penyebaran Islam di Indonesia (Nusantara) disebarkan oleh para sufi, terutama pada kisaran abad ke-13 Masehi. Mereka melihat faktor keberhasilan para sufi dalam proses penyebaran adalah kemampuan para sufi untuk mengadopsi “keyakinan lokal” menjadi bagian penting di dalam ritual-ritual Islam. Secara atraktif ajaran Islam dikemas dalam coraknya yang berdekatan dengan tradisi lokal, sehingga penyerabaran Islam terkesan berwajah damai dan tanpa tekanan sama sekali.

Selain itu, penyebaran Islam yang ada di Nusantara, terutama Jawa masih kental aroma budaya yang datang jauh hari sebelum Islam menancapkan kukunya di Nusantara, baik itu yang bercorak animisme-dinamisme ataupun segala hal yang dipengaruhi oleh keberadaan Hindu-Budha yang lebih dulu lama singgah di Nusantara. Sampai sekarang belum ditemukan literature yang bisa menjawab kenapa para wali yang menyebarkan Islam di Jawa masih begitu kuat memegang beberapa prinsip kebudayaan lokal Jawa.

Kentalnya nilai tradisi yang menghiasi perkembangan Islam di Jawa juga masih terlihat pada masa pergerakan Nasional, sampai kemudia muncul Muhammadiyah yang mengklaim dirinya sebagai gerakan puritanisasi Islam dalam upayanya untuk mengembalikan Islam sesuai dengan Qur’an dan Hadis.[18] Meskipun demikian, kalangan tradisional Islam tidak lantas kehilangan posisinya di tengah-tengah masyarakat Indonesia, puncaknya adalah ketika Nohdhotul Ulama (NU) resmi berdiri di Surabaya tahun 1926 yang visinya yaitu menjaga eksistensi Islam tradisional dari gempuran kaum reformis.[19]

NU yang lahir dan besar di Jawa Timur benar-benar memanfaatkan Jawa Timur untuk menjadi basis masa terbesar NU. Meskipun Muhammadiyah lebih dahulu berdiri, namun tidak serta merta dapat mengambil hati masyarakat Jawa Timur pada umumnya untuk mengalihkan simpatinya kepada organisasi massa berbasis agama yang lahir di Yogyakarta ini, bahkan kenyataan itu masih berlaku sampai sekarang. NU hampir menguasai seluruh elemen keagamaan di Jawa Timur, tidak terkecuali Pondok Pesanten (ponpes). Stigma masyarakat yang mengatakan bahwa ponpes selalu identik dengan NU tidak sepenuhnya salah, ini dikarenakan kebanyakan pesantren yang ada di Jawa Timur berbasis NU.

Kehidupan sosial-kebudayaan masyarakat Paciran dan sekitarnya sangat terpengaruh oleh kehidupan keagamaan dan keadaan tipologi yang ada di sana. Keduanya membentuk sebuah akulturasi budaya dengan kebudayaan lokal yang telah ada sebelumnya. Pesisir Lamongan sangat egaliter, namun tetap saja corak kebudayaan Jawa masih sangat terasa di beberapa elemen kehidupan masyarakatnya. Di lain pihak, masyarakat Lamongan, terutama bagian utara, merupakan masyarakat santri yang terbentuk oleh proses historis panjang sejak berakhirnya kekuasaan Majapahit.

Basis kultural masyarakat santri di Lamongan terbentuk sejak keterikatan wilayah ini dengan Kesultanan Islam di Demak, beberapa saat setelah runtuhnya kekuasaan agung Majapahit. Lamongan merupakan salah satu wilayah kekuasaan Demak yang berada di bawah otoritas Sunan Giri di Gresik, sebuah sistem politik yang mempersatukan otoritas keagamaan dengan wilayah politik.[20] Melemahnya kekuatan Demak di pusat menjadikan otoritas Sunan Giri semakin menguat, bahkan hampir menyerupai “Raja Kecil” di wilayah pesisir Jawa Timur. Karena semakin menguatnya Sunan Giri, maka upaya dakwah yang dilakukan oleh Sunan Giri semakin massif, termasuk di Lamongan. Para santri dikirim ke pelbagai pelosok daerah untuk menyebarkan Islam dan menyusun struktur pemerintahan di beberapa wilayah di pesisir utara Jawa Timur, termasuk Raden Ronggo Hadi yang kelak menjadi bupati pertama di Lamongan pada masa Sunan Giri.[21]

Tidak hanya berkisar dalam hal politik saja, namun pemakaian simbol-simbol Islam juga banyak ditemukan di beberapa peninggalan sejarah. Seperti makam Sunan Drajat, makan Sunan Sendangdhuwur, makam Syaikh Hisyamuddin, masjid agung Lamongan, dan beberapa makam yang dikeramatkan di Lamongan. Dalam kasus selanjutnya, makam ini menjadi salah satu rujukan masyarakat sekitar sebagai “wisata religi” sekaligus sebuah alas an untuk semakin mendekatkan diri kepada tuhan.

Keberadaan para wali dan beberapa tokoh besar keagamaan di Lamongan menjadikan Lamongan sebagai salah satu basis kekuatan Islam di Jawa Timur. Hasil rekapitulasi Biro Pusat Statistik Kabupaten Lamomongan tahun 2001 menunjukkan bahwa dari 1.192.979 jiwa terdapat sekitar 1.188.559 jiwa  memeluk agama Islam atau sekitar 99,63%, dan sisanya adalah Katolik, Protestan, Hindu dan Budha.[22]

Jelas sekali bahwa corak kebudayaan yang dihasilkan oleh masyarakat Lamongan, khususnya Paciran sangat dipengaruhi oleh Islam yang menjadi agama mayoritas di sana. Meskipun demikian, budaya yang dihasilkan tidak satu jenis Islam saja, melainkan banyak aliran di dalamnya, oleh karenanya sulit sekali membagi-bagi kelompok Islam di Lamongan ke dalam Santri dan Abangan (kejawen). Pembagian yang dilakukan oleh antropolog dari Amerika, Clifford Geertz, tentang keadaan keagamaan di Jawa dalam Santri, Priyayi dan Abangan memang member sumbangan terhadap pembacaan masyarakat Jawa. Namun Geertz tidak mempertimbangkan bahwa masyarakat Jawa bukanlah masyarakat yang statis, apalagi kalau dikontekskan dengan masyarakat pesisir layaknya Lamongan.

Realitas hubungan santri dengan abangan bergerak dinamis sesuai dengan dinamika perubahan sosial. Untuk masyarakat Jawa, sebenarnya Koentjaraningrat pernah membuat sebuah pembagian berdasarkan kedaerahan[23]. Ortodoksi Islam menguat di bagian barat Jawa Tengah yang berbatasan dengan daerah Sunda, pantai utara Jawa dan beberapa daerah yang bersinggungan dengan pengaruh Madura. Sementara itu, wilayah Jawa Tengah bagian selatan menjadi kantong kejawen, yaitu Islam banyak bercampur aduk dengan budaya lokal.

Kejawen di Lamongan sebenarnya ada, akan tetapi kejawen di Lamongan berbeda dengan kejawen yang sebenarnya. Kejawen (di Lamongan) dapat ditemukan dalam masyakat petani yang santri. Masyarakat petani santri ini sebagian besar berada di wilayah Lamongan bagian selatan. Meskipun Muslim, mereka tetap melaksanakan ritual-ritual yang melambangkan tradisi-tradisi kejawen. Ini juga yang mebedakan keberadaan Islam di Lamongan bagian utara dan bagian selatan secara umum.  Ciri seperti ini banyak dijumpai di beberapa daerah di pedalaman Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, semisal slametan[24] kematian mulai dari tiga, tujuh, seratus dan seribu hari kematian, sadranan, nyekar,[25] dan ngruwat. di samping mereka tetap melaksanakan kegiatan utamanya sebagai seorang muslim.

Satu hal yang juga menjadi salah satu alasan kenapa kejawen tidak bisa berkembang sebagai sebuah institusi atau varian sosial kemasyarakatan adalah adanya kelompok-kelompok Islam yang terwadahi dalam sebuah organisasi relegius. Organisasi relegius ini dalam perkembangannya ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan Islam di pesisir Lamongan.[26] Sejak awal, penyebaran Islam di Lamongan dilakukan secara organisatoris melalui struktur kekuasaan yang berada di bawah kekuasaan Sunan Giri. Menuju era yang lebih modern, institusi yang berlabel keagamaan semakin menunjukkan taringnya di Lamongan,[27] apalagi muncul dua kutub organ masa berbasis agama terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU.

Tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial kemasyarakatan saja, tetapi sudah merambah ke dunia pendidikan di mana lembaga-kembaga itu gigih menyumbangkan ide dan gagasannya dalam pendidikan, salah satunya dengan mendirikan pondok pesantren. Oleh karenya, selain merupakan tradisi turun-temurun sejak jaman Wali Sanga, keberadaan institusi keagamaan ini juga semakin menumbuhkembangkan keberadaan pesantren di Pesisir Lamongan.

Peran sentral organisasi masa berbasis keagamaan semakin mencolok dan menunjukkan taringnya di pesisir utara Lamongan pada kurun waktu 1920 ke atas. Hal ini dikarenakan organisasi masa semacam Muhammadiyah dan NU melakukan perbagai kebijakan untuk memperluas jaringan masing-masing. NU secara umum masih mempunyai masa terbanyak di wilayah Jawa Timur, dikarenakan di wilayah inilah NU lahir dan berkembang. Muhammadiyah, meskipun tidak segegap-gempita NU, namun tidak menyurutkan antusias simpatisannya di Jawa Timur. Wilayah pesisir menjadi lahan dakwaknya, termasuk Lamongan bagian Utara. Pada akhirnya Muhammadiyah benar-benar menjadi Organisasi kemasyarakatan berbasis Islam mayoritas di wilayah ini, bahkan sampai sekarang.

 


[1] Faturrahim Syuhadi, Mengenang Perjuangan Sejarah Muhammadiyah Lamongan 1936-2995, (Surabaya: PT. Java Pustaka Media Utama, 2006), hlm. 2.

[2] Ibid, hlm. 4.

[3] Karena sangat menggiurkannya keadaan laut pesisir Lamongan, tidak hanya masyarakat setempat saja yang mencari makan di sana. Dalam perkembangannnya Negara Kolonial macam Jepang juga tertarik dengan kekayaan lautnya. Baca Adzkiyak, “Perubahan Sosial-Ekonomi Masyarakat Nelayan Lamongan selama Periode 1930-1965”, Skripsi, (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 2008), hlm. 34.

[4] Sampai sekarang musim ini menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kelangsungan mata pencaharian dan perekonomian masyarakat pesisir utara Lamongan. Apalagi hal ini didukung dengan pola hidup masyarakat pesisir Lamongan yang sangat konsumtif. Ibid., hlm. 37.

[5] Ibid., hlm. 39.

[6] Pemerintah Kabupaten Lamongan Daerah Tingkat II Lamongan, Memayu Raharjaning Praja, (Lamongan: Tanpa Penerbit, 1996), hlm. 45.

[7] Seiring dengan semakin banyaknya kebutuhan, tidak sedikit pula masyarkat yang berada di selatan mengadu nasib menjadi nelayan, lantaran pendapatannya yang satu tingkat di atas pertanian. Karena desa mereka relative lebih jauh, maka mereka memilih menjadi nelayan tipe miyang (melaut kurang lebih seminggu). Sajauh ini ada tiga tipe nelayan yang ada di pesisir Lamongan; Ndogol (nelayan yang sehari pulang sehari berangkat), Miyang(nelayan yang hanya kisaran minggu) dan Amen (biasanya berada di tengah laut mencapai hitungan bulan)

[8] Istilah Tionghoa digunakan untuk menyebut etnis Tiongkok yang berada di Indonesia secara keseluruhan. Dalam perkembangannya, mereka dapat ditemui di koloni-koloni mereka yang diciptakan oleh pemerintah Kolonial Hindia-Belanda untuk membatasi arus gerak mereka yang sangat cepat, terutama dalam bidang ekonomi. Leo Suryadinata, Politik Tionghoa dan Peranakan Jawa, (Jakarta: Sinar Harapan, 1994), hlm 21.

[9] Nur Syam, Islam Pesisir, (Yogyakarta: LKiS, 2005), hlm. 59

[10] Azumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-XVIII (edisi revisi), (Jakarta: Prenada Media, 2005), hlm. 4.

[11] Seperti yang dipaparkan oleh Azra dalam bukunya, bahwa mazhab yang berkembang dan dibawa oleh para pendatang adalah adalah safi’i. Inilah yang kemudian melandasi teori Arnold tentang kesamaan antara keadaan Islam di Nusantra dengan Malabar, lantaran Malabar bermazhab safi’i, seperti yang banyak dianut oleh kebanyaan besar masyarakat Islam di Indonesia . Azumardi Azra, ibid., hlm. 6

[12] Harsya W, Bachtiar “Komentar”, dalam Clifford Geertz, Abangan Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1981), hlm 52.

[13] Nur Syam, op.cit., hlm. 61.

[14] Teori ini sampai sekarang masih sangat popular lantaran kebanyakan sejarawan Indonesia menggunakan pendekatan ini dalam analisisnya ikhwal kedatangan Islam di Nusantara. Hal serupa juga dikemukakan oleh Pramudya Ananta Toer dalam opus magnum-nya, “Arus Balik” yang dengan jelas menjelaskan bagaimana kerajaan-kerajaan atawa kesultanan Islam sangat berperan penting terhadap penyebaran Islam itu sendiri, meskipun, Pram menyebutnya, sangat represif.

[15] Berakhrinya dominasi Hindu-Budha di Nusantara diidentikkan dengan jatuh dan berakhirnya kekuasaan Majapahit setelah tahun 1400 tahun Saka, atau tahun 1478 Masehi. Sesudah itu Majapahit jatuh dalam kekuasaan Raden Patah, Sultan Demak. Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan  Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, Cet. 6, (Yogyakarta: LKiS, 2008), hlm. 29.

[16] H.J. De, Graff, “Islam di Asia Tenggara sampai Abad ke 18”, dalam Azumardi Azra, Perspektif Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989), hlm. 2.

[17] Azumardi Azra, op.cit, hlm.33.

[18] Muhammadiyah berdiri secara resmi pada 12 November 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta, waktu itu beliau dipercaya menjadi salah satu katib di Kesultanan Yogyakarta. Ide ini muncul akibat dari beberapa rekannya yang ada di Boedi Utomo. Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, ), hlm 86.

[19] Awalnya NU berakar dari kalangan ulamak tradisional yang kebanyakan menjadi pedagang. Hal ini dapat ditelisik dengan berdirinya Nahdhotut Tujjar. Greag Fealy, Ijtihad Politik Ulama, (Yogyakarta: LKiS, 2003), hlm.30.

[20] Beberapa dari Sembilan Walisongo diangkat menjadi pemimpin agama yang memiliki kekuasaan politik di daerah dakwak mereka masing-masing. Lamongan masuk dalam wilayah kekuasan Sunan Giri. Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: LP3ES, 1984), hlm. 326.

[21] Ronggohadi diresmikan oleh Sunan Giri sebagai penguasa Lamongan (baca Bupati) pada 26 Mei 1569. Pemerintah Kabupaten Lamongan, Naskah Hari Jadi Lamongan, (Lamongan: tanpa tahun), hlm. 23.

[22] Asykuri Ibn Chamim, et. al., Purifikasi dan Reproduksi Budaya di Pantai Utara Jawa Muhammadiyah dan Seni Lokal,(Surakarta: Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003), hlm. 13.

[23] Koentjaraningrat, op.cit, hlm. 315.

[24] Slametan Bahasa Indonesia Selamatan adalah mengadakan pengajian dan do’a untuk memperingati orang yang telah meninggal. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm.94.

[25] Nyadran atau menyadran adalah berziarah atau menyekar di kuburan. Tesaurus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasiona, 2008), hlm.419.

[26] Keberadaan Organisasi-organisasi relegius tersebut secara tidak langsung membuat kejawen, meminjam istilah Geertz, tidak mempunyai wadah untuk beribadah dan menyebarkan ajarannya, laiknya di beberapa tempat di Jawa. Secara eksplisit dapat ditemukan dalam penelitiannya Hefner tentang masyarakat Tengger, Probolinggo. Robert W. Hefner, Geger Tengger, (Yogyakarta: LKiS, 2000), hlm. 25.

[27] Masykuri ibn Chamim, op.cit., hlm. 16.

4 comments

  1. sumberagung · December 5, 2014

    Salam hangat dari kami, pemerintah desa sumberagung – brondong – lamongan – jawa timur

    • ndangcerung · December 5, 2014

      Salam hangan juga. Saya Habib, dari Lembor. Hehehehehe…. Sak kecamatan kan ndewek, mas?

  2. Elisa · February 7

    Aku ki sakjane golek data “Lamongan Kota Bahari” kok malah nyasar na teori-teorimu toh, Mas. *close tab*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s