Home » Uncategorized » Bertemu Syafii Maarif

Bertemu Syafii Maarif

Bukan alang-kepalang girangnya. Siang itu saya berkesempatan bertemu dengan salah satu guru, sejarawan, negarawan, dan barangkali filsuf–suatu kali dia pernah mengampu mata kuliah Pengantar Filsafat, Buya Ahmad Syafii Maarif. Sempat beberapa kali tatap muka saat masih kuliah ketika dia mengadakan Kuliah Umum di ruang Ki Hajar, tapi siang itu begitu berbeda rasanya.

Sama halnya kita ketika kita bertemu dengan salah seorang idola, menciuminya, memeluknya, mengelu-elukannya. Tapi tak mungkin saya melakukan itu kepada Buya Syafii. Yang ada justru sambutan yang sangat hangat luar biasanya dari dia. Bahkan, di ujung obrolan dia bilang, “saya senang Anda ke mari.”

Syahdan, saya mengenal nama Ahmad Syafii Maarif sekira 1999. Saat itu, Amin Rais mengundurkan diri dari Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, lantaran memutuskan terjun ke politik. Posisinya diambil alih oleh Syaffi Maarif. Jujur, track record-nya tidak terlalu saya ketahui. Saya benar-benar buta dengan nama baru itu. Yang jelas, saat itu dia adalah ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Cukup.

Saya kembali mengingat nama itu ketika nyantri. Tak sengaja saya membaca sebuah artikel bersambung di Jawa Pos tentang tiga pendekar Chicago dari Indonesia; Amien Rais, Nurcholis Majdid, dan Syafii Maarif. Dari artikel yang terbit beberapa hari itu, saya tahu Cak Nurcholis Majdid dan Buya Syafii Maarif lebih banyak.

Saya semakin antusias ketika masuk di Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta. Kakak saya bilang ke saya, bahwa Buya Syafii mengajar di program studi itu. Bahkan menjadi salah satu guru besarnya–selain Prof. Daliman dan Prof. Husain Haikal.

Malang nasib saya, ternyata Buya telah pensiun mengajar sejak 2005, dan saya baru masuk kuliah 2006. Itu artinya, saya tidak akan pernah masuk kelasnya. Kerugian kah? Tentu saja. Belum lagi, jika mendengar cerita-cerita kakak angkatang yang begitu antusias semakin membuat saya kecewa. Untung, beberapa kali Buya Syafii masih rutin mengisi kuliah umum di jurusan saya. Sedikit terobati, lah.

Tapi semuanya terobati kemarin, Minggu 14 Juli 2013. Mengemban tugas dari kantor untu meminta ucapa ulang tahun yang ke-50, saya–dan salah seorang kawan–mendatangi rumah Buya dengan semangat. Tidak ada bahan obrolan yang disiapkan.

Sehari sebelumnya, saya masih sibuk mencari nomernya. Saya kontak teman, meminta bantuan kawan untuk menghubungi dosennya, siapa tahu punya. Saya sendiri juga mengontak salah seorang dosen saya, berharap dia juga punya. Perkiraan saya tepat, beberapa dosen saya itu masih menyimpan nomer Buya Syafii dengan rapih.

Segera saya telepon. Tapi tak kunjung ada jawaban. Saya coba sekali lagi, tak ada juga. Akhirnya saya memutuskan untuk mengirim pesan pendek saya, siapa tahu dia tidak sempat untuk menjawab telepon. Benar dugaan saya, tak seberapa lama berselang, pesan saya dibalas. “Mau ke Jakarta, coba kontak lagi saya besok sekitar jam 09.00 WIB. Terimakasih. Maarif.”

Pagi besoknya, dia kirim SMS ke hp saya. “Bung Habib, sekitar jam 09.15 pagi ini saya ada di alamat ini: Perum Pesona Regency E3, sekitar 100 meter timur lapangan bola Nogotirto sisi utara. Maarif.” Huaa, saya jadi malu, karena saya yang seharusnya kirim pesan duluan. Tapi tak apalah, “Iya, Buya. Sekitar jam 10 saya meluncur dari Gowok. Habib,” balas saya dengan nomer hp teman yang saya pinjam.

Jam 10 lebih sekian saya meluncur ke tempat tujuan, dengan mbonceng manis di motor yang dikendarai seorang kawan. Hahahaha.. Muter-muter mencari alamat yang dituju; salah, tanya, salah lagi, tanya lagi, sampai akhirnya alamat yang dituju benar-benar ketemu.

Saya ketuk pintu tiga kali, lalu mengucap salam.

Ada jawaban salam, “siapa?” tanyanya memastikan.

“Habib, Buya.”

Setelah itu, semuanya berjalan dengan sangat baik. Dia senang, kami girang alang-kepalang. Buya ngobrol panjang lebar, tentang buku barunya yang baru terbit. Kritiknya terhadap kejumudan para elit dan keenggenan mereka belajar sejarah. Pancingan-pancingannya agar kami membocorkan skripsi yang kami tulis dulu (juga beserta nilai yang menyertainya). Ah, dia sedikit pilih kasih. Skripsi teman saya lebih banyak dibahasnya, bahkan menyuruhnya menjadikan buku. Maklum, tema skripsi teman saya lebih seksi, sih. Hehehe…

Tak hanya itu, dia juga membeberkan bagaimana sibuknya dia sampai saat ini. Memutuskan untuk pensiun mengajar di perguruan tinggi tidak malah mengurangi jam sibuknya, dia justru semaikin sering loncat sana, loncat sini. Besok ke Jakarta, Makasar, Kalimantan, dan semua.

Tak terasa, sudah sejam lebih kami ngobrol. Adzan Dhuhur sudah berkumandang sedari tadi. Saya memutuskan pamit undur diri.

“Jika ada waktu, boleh kiranya main ke sini untuk meminta sedikit wejangan,” kata temanku berharap berlebihan. Hahaha..

Terimakasih, Buya!

Tabik!

Jakarta, 15 Juli 2013

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s