Home » Uncategorized » Dinamika Ponpes Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan,Jawa Timur 1986-1990

Dinamika Ponpes Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan,Jawa Timur 1986-1990

Ponpes adalah sebuah lembaga yang berbasis Islam yang menjadi salah satu barometer perkembangan agama Islam pada masa selanjutnya. Banyak bukti yang telah menerangkan bahwa salah satu keberhasilan wali songo dalam menyebarkan agama Islam adalah melalui jalur pondok pesantren.

Sejarah berdirinya pondok pesantren sendiri sudah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, Mastuhu memperkirakan bahwa usia pondok pesantren adalah berkisar antara 300 sampai 400 tahun. Keberadaan pondok pesantren sangatlah penting, pondok pesantren telah merubah paradigma masyarakat Jawa khususnya dari pengaruh Tahayul, Bid’ah dan Churofat, yang kemudian sering disingkat dengan istilah TBC.

Jawa adalah sebuah tempat yang sangat unik, disana akan banyak ditemukan berbagai macam percampuran budaya, mulai dari Animisme-dinamisme dan budaya Hindu-budha, kemudian Hindu-budha dan Arab (Islam), kemudian adalah Bangsa-bangsa dari negeri atas angin, Eropa, yang juga tidak serta merta dengan tangan kosong dan modal kapal saja, tetapi juga berusaha menyebarkan budaya mereka ke bumi Nusantara.

Contoh pondok pesantren yang kemudia menjadi lambang supermasi pondok pesantren adalah pondok Modern Gontor, Ponorogo, yang telah menghasilkan lulusan yang sangat berkualitas. Banyak alumni Gontor yang menduduku posisi penting dalam pelbagai aspek kehidupan di Indonesia, semisal dunia politik yang banyak menempatkan orang-orang alumni Gontor pada tempat yang terhormat. Contoh, Hidayat Nur Wahid yang menjadi ketua MPR RI, Hasyim Muzadi yang menjadi pimpinan pusat NU dan lain sebagainya.

Tidak terkecuali dengan pondok pesantren Al-Ishlah, Sendangagung, Paciran, Lamongan. Pondok tersebut juga telah banyak berperan terhadap maju dan berkembangnya budaya Islam di daerah Lamongan, terutama di daerah pantai utara Lamongan. Hingga saat ini telah ada kurang lebih seribu santri yang menuntut ilmu di ponpes Al-Ishlah.

***

Embrio berdirinya ponpes Al-Ishlah berasal dari sebuah langar yang sering disebut penduduk setempat dengan istilah langgar Beji, sebuah langgar yang terletak di daerah Beji, desa Sendangagung, kecamatan Paciran, kabupaten Lamongan. Tidak menyangka dari tempat kecil yang dinamakan langgar Beji akan muncul ponpes yang mempunyai peran penting di kabupaten Lamongan.

Pondok pesantren yang didirikan oleh K.H. M. Dawam Sholeh itu saat ini menjadi salah satu tujuan orang tua guna membekali anak-anak mereka dengan bekal agama. Selain itu di pondok pesantren Al-Islah santri-santinya akan digembleng pendidikan bahasa Arab dan bahasa Inggris yang menjadi bahasa percakapan sehari-hari.

Pada awalnya pak Dawam (sapaan akrab M. Dawam Sholeh), tidak berkeinginan untuk mendirikan pondok pesantren, cita-cita beliau adalah menjadi seorang dosen atau paling tidak adalah seorang penulis yang telah ditekuninya semenjak berada di pondok pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Setelah lulus sarjana muda di sekolah tinggi Islam Darussalam Gontor, beliau memutuskan untuk melanjutkan studinya di bumi Ngayogyokarto, tepatnya di Universitas Gajah Mada (UGM). Dalam masa studinya di Yogyakarta, beliau nyambi ngajar di pondok pesantren Pebelan Muntilan, Magelang. Ketika mengajar di Pebelan inilah kemudian muncul keinginan untuk mendirikan pondok pesantren. Di Pabelan beliau mendapat pengalaman besar untuk bisa terjun langsung ke dunia pondok pesntren. Faktor lain yang sangat mendorong keinginan pak Dawam dalam mendirikan pondok pesantren adalah keemanan beliau akan hilangnya ilmu-ilmu agama yang telah didapat di pondok pesantren Darussalam Gontor.

Pada awalnya pondok rintisan pak Dawam ini hanya berupa pengajian kecil-kecilan, yang hanya melibatkan orang-orang di daerah Sendangagung saja. Baru pada 13 September 1986, pondok resmi didirikan, dengan jumlah murid pertama adalah sekitar 10 orang/santri. Dalam berdirinya ponpes tersebut, ternyata pak dawam tidak sendirian, beliau dibantu oleh partner-partner beliau semasa mengajar di SMP M 12 desa Sendangagung, seperti pak Jono, pak Rodhi, Pak Asam, dan pak Thohir bersama keempat rekannya itulah pak Dawam bahu-membahu membangun ponpes tersebut. Juga dengan keempat rekannya itulah pak Dawam begitu gigih membangun apa yang menjadi cita-citanya semenjak mengajar di ponpes Pabelan, Muntilan, Magelang. Keempat rekan beliau tidak hanya rekan mengajar, tetapi juga rekan ngobrol, begadang, bercerita dan lain sebagainya.

Keempat rekan pak Dawam itu tahu betul bahwa pak Dawam membutuhkan orang yang bisa diajak untuk ngobrol dan berbagi cerita, dikarenakan kegelisahannya, dan merekalah yang kemudian menjadi tempat curhat pak Dawam. Apalagi pak Dawam waktu itu masih bersetatus bujangan yang belum memikirkan nasib anak dan istri. Jadi konsentrasi sepenuhnya tertuju pada upaya pendirian ponpes.

Meski ada semacam nada tidak percaya dari kalangan masyarakat setempat, tetapi itu tidak lekas menyurutkan keyakinan pak Dawam untuk terus berjuang mendapatkan apa yang di citakannya. Beliau juga mempunyai sebuah falsafah, meskipun hanya satu santri yang menjadi santrinya dia akan tetap mengajarnya. Keyakinan pak Dawam juga diperkuat oleh rasa penasarannya terhadap beberapa ramalan yang mengatakan bahwa pondok tersebut kelak akan menjadi pondok yang besar dan cukup punya nama. Meskipun pada awal berdirinya banyak sekali sikap pesimis yang muncul silih berganti dari rakyat Sendangagung. Meskipun sebuah ramalan itu tidak sepenuhnya berakhir pada kenyataan, karena ramalan hanyalah sekedar ramalan yang suatu saat bisa benar dan juga sering salah.

Ada bebera ramalan, yang sempat mengiringi proses berdirinya ponpes tersebut. Pertama adalah ramalan seorang buta yang berasal dari daerah Rengel, Tuban. Dia mengatakan bahwa di daerah Beji (Sendangagung) akan muncul sebuah kejayaan jika ada “ Bule Cemani”, dia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bule cemani adalah orang yang mempunyai jiwa yang ikhlas dan kemauan yang besar untuk mendirikan atau mewujudkan apa yang diinginkannya.

Kedua, adalah nanti akan timbul kesaktian di barat laut sendang kalau muncul “ Pithik Gringsing Mangkring Ning Palange Kandang”. Ramalam tersebut diartikan akan muncul kekuatan di sebelah barat daya desa Sendangagung, jika ada seorang yang benar-benar konsisten menjaga dan mengabdi untuk tempat (pondok pesantren) tersebut, dan tidsak tergoda dengan iming-iming jabatan ataupun kekayaan.

***

Sistem pendidikan yang ada di ponpes Al-Ishlah adalah memadukan sistem pendidikan modern dengan sistem pendidikan Islam. Hal yang paling menonjol dari pondok pesantren Al-Ishlah adalah penerapan disiplin bahasa yang sangat kuat dan ketat. Sistem bahasa ini banyak diadopsi dari sistem pendidikan yang ada di pondok moden Gontor. Perlu diketahui bahwa pondok pesantren Al-Ishlah adalah salah satu pondok alumni Gontor yang ada di Jawa Timur.

Selain itu pak Dawam juga memadukan bahasa Arab-Inggris dengan kemampuan dalam bidang Matematika. Meskipun demikian pak Dawam tidak serta merta menghilangkan ruh pondok, yaitu pembakalan terhadap pengetahuan agama Islam. Dia beranggapan bahwa barang siapa yang ingin sukses di dunia maka dia harus menguasai ketiga aspek yand disebut di atas tersebut, yaitu bahsa Arab, bahasa Inggris dan matematika.

Bahasa Arab, ujarnya merupakan sarana yang baik untuk kita dapat menguasai ilmu-ilmu agama (Islam), selain itu, bahasa Arab adalah bahasa persatuan dan bahasa Internasional dari Bangsa-bangsa Arab. Bahasa Inggris, kita tahu merupakan bahasa sumber dari ilmu-ilmu umum semacam ilmu-ilmu sosial, ekonomi, sastra, dsb. Selain itu bahsa Inggris adalah bahasa Internasional dan bahasa persatuan seluruh negara di dunia, sedangkan dengan matematika, seseorang akan mampu menguasai ilmu-ilmu pasti alam dengan lancar dan mudah. Oleh sebab itulah pak Dawam sangat berambisi untuk mendidik murid-muridnya pandai dalam ketiga aspek ilmu tersebut.

Pondok Al-Ishlah semakin terdengar namanya juga dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang ada. Yaitu memadukan bahsa Arab, Inggris dan Matematika. Ini merupakan terobosan pertama dan utama, yang mana sebelumnya belum ada satu pondok pesantren pun yang menerapkan sistem pendidikan seperti ini di daerah pantura Lamongan. Seperti pondok kebanyakan, di derah pantai utara Lamongan, rata-rata pondok pesantren masih getol dengan sistem pendidikan konvensional ala pondok pesantren, yaitu mngajarkan pelajaran-palajaran yang berhubungan dengan ajaran agama Islam saja.

Sebelumnya telah banyak ponpes di daerah pantura Lamongan, semacam pondok pesantren Muhammadiyah Karangasem, pondok pesantren Modern Muhammadiyah Paciran, ponpes Sunan Drajat dsb. Tetapi kesemua pondok-pondok itu belum ada yang benar-benar konsentrasi ke permasalahan pengajaran bahasa. Hal inilah yang kemudian diusung pak Dawam dalam salah satu misinya, yaitu mendidik santrinya pandai berbahasa Arab dan Inggris.

Hal lain yang menjadi terobosan dari pondok pesantren Al-Ishlah adalah menjadi pondok pesantren yang bersifat netral, tidak condong pada hegemoni Muhammadiyah maupun NU. Seperti diketahui saat itu bahwa perselisihan antar NU dan Muhammadiyah masih teramat terasa dan kental sekali. Memang dari awal berdirinya, NU cenderung mencoba melawan eksistensi golongan-golongan Islam beraliran modern semacam Muhammadiyah. Begitu juga yang terjadi di desa Sendangagung, kalangan NU beranggapan bahwa orang-orang Muhammadiyah yang berartribut modern, semacam celana, adalah pengikut orang kafir dan menjadi hal yang sangat tabu bagi mereka.

Dengan sistem baru yang diperkenalkan oleh pondok pesantren Al-Ishlah, pak Dawam berupaya menghapuskan berbagai macam perselisihan yang terus terjadi antara Muhammadiyah dan NU. Awalnya jam belajar di ponpes Al-Ishlah adalah pukul 06.00 sampai 08.00 saja. Kemudian jam tersebut dirubah untuk keefisienan waktu, yaitu pada siang hari. Berhubung besarnya hasrat dan semangat para santri, maka kemudian pak Dawam memutuskan untuk membuat asrama. Asrama pertama berada di rumah kakeknya pak Dawam. Jumlah santri pertama sebanyak 10 santri yang kesemuanya dari desa Sendangagung. Semua santri pada waktu masih dari SMP, baru kemudian pada tahun 1989 Madrasah Aliyah didirikan, tepat tiga tahun dari beridirinya ponpes Al-Ishlah. Dibukanya sekolah Aliyah dimaksud agar santri-santri dari Aliyah dapat mengurusi adik-adik kelasnya yang masih duduk di bangku SMP.

Selain hal-hal diatas, masih ada pendidikan lain yang ditawarkan oleh ponpes Al-Ishlah, terutama pendidikan ekstrakulikuler yaitu kepramukaan dan Muhadhoroh yang bertujuan untuk melatih mental santri ketika terjun di masyarakat nantinya. Hal lain yang patut dicermati dari kebanyakan pondok pesantren adalah hubungan guru dan murid begitu akrab dan dekat, sehingga dapat mewujudkan situasi kekeluargaan dan keharmonisan yang begitu kuat. Begitu juga yang dilakukan oleh pak Dawam selaku pangasuh dan pendiri pondok pesantren Al-Ishlah, yaitu menjalin hubungan kultural antara pengasuh atau kiyai dengan santri-santrinya. Salah satunya adalah pengadaan khotbah iftitah pada awal tahun ajaran baru.

About these ads

One thought on “Dinamika Ponpes Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan,Jawa Timur 1986-1990

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s